Sabtu, 09 Januari 2016

Fanfiction a Pathetic Girl With a Stubborn Boy Chapter XV







Aku termangu dibalik kemudi sembari fokus pada jalanan yang mulai sepi, menikmati perjalanan dibalik keresahan. Menghela napas berat berkali-kali di tengah hembusan udara dingin dalam mobil. Larut malam di perempatan lampu merah, aku menoleh di jok belakang dimana Kanna tengah tertidur pulas dengan memeluk boneka kesayangannya. Senyum singkat melihat bidadari kecilku yang tak mengerti batin ibunya sedang berkecamuk liar. Lampu hijau menyala. Kukemudikan mobil dengan kecepatan lambat, sedangkan Kanna tetap terlelap hingga tiba dirumah.

Kanna sudah bermimpi indah dikamarnya yang memiliki banyak sekali boneka lucu. Ia sama sekali tak terbangun sewaktu aku menggedongnya dari mobil menuju kamarnya dan setelah itu kugantikan gaunnya dengan piyama bermotif kuda. Gadis kecilku sepertinya sangat lelah.
Setelah membersihkan diri dari sisa-sisa make up dan berganti pakaian tidur, aku terjun ke tempat tidurku. Menenggelamkan wajahku di atas bantal dengan posisi telungkup. Mencoba menghibur diri bak anak kecil, aku berguling-guling dari sisi tempat tidur ke ujung tempat tidur. Begitu seterusnya hingga sebuah bunyi kecil mengejutkanku.

Pipp !

Aih ponselku...... 

Ponselku berbunyi singkat, ada pesan baru masuk menanti untuk kubaca. Perang batin terjadi dalam pikiranku. Siapa yang mengirim pesan? Bagaimana jika dia yang mengirimiku pesan? Atau jangan-jangan dia atau mungkin saja..... Arrrgh ! 

Dengan enggan aku meraih ponsel yang tergeletak diatas meja rias. Kubuka ponselku dengan mata tertutup sambil melirik sipit ke layar ponsel. Kubaca isinya. 

Yo !
 
Mataku terbuka lebar..

Aku lega....

Ryota.

Kau mengejutkanku...

Ahahahahaha maaf. Kau sudah sampai rumah?

Aku sedang berbaring cantik di tempat tidurku.

Syukurlah. Istriku mengkhawatirkanmu.

Ahh.. sampaikan maafku pada istrimu karena aku tak mau pergi jauh darimu setelah peristiwa tadi.

Tidak ada balasan

5 menit

10 menit

15 menit

30 menit

Pipp!

Aku sudah dekat rumahmu.

Eehhhh....??? Kau serius???

Ryota sudah gila selarut ini bertamu dirumah seorang wanita.

Tentu, aku sudah mendapat ijin dari istriku. Tenang saja.

Setengah berlari aku mengambil jaket hangat dan menuju pintu depan kemudian duduk di sebuah kursi di teras untuk menunggu kedatangan Ryota.

Tak lama berselang sorot lampu mobil menerpa kegelapan disekitarku. Ryota keluar dari mobil membawa sesuatu ditangannya dan menyapa riang. Ia masih menggunakan jas yang ia kenakan di pesta tadi.

“Yo...!”

“Haaah... mengganggu waktu tidurku saja...” Aku menggerutu walau dalam dalam taraf bercanda.

“Haaah.... aku berani taruhan kau tak akan bisa tidur malam ini..” 

Gelak ringan memecah kesunyian sekitar.

Setelah mempersilahkan Ryota masuk kedalam rumah dan kami duduk berhadapan di ruang tamu, tiba-tiba hawa diruangan menjadi berubah. Atmosfer diruang tamu terasa menjadi serius walaupun sebelumnya celoteh hangat saling bersahutan.

“Kau tahu maksudku kan kenapa aku sampai jauh-jauh datang kemari?”

Aku mengangguk dua kali

“Kau sudah bertemu keduanya bukan?”

“Yaah... dan aku sempat mengalami konflik dengan salah satunya. Itu yang membuat kepalaku sedikit pening.”

Hening.

Aku bergumam seorang diri. “Kenapa secepat ini aku bertemu lagi dengannya..”

“Apa yang kau takutkan?”

“Entahlah. Aku belum siap untuk menghadapinya. Dan lagi.... aku sangat takut sesuatu terjadi hingga nantinya aku berpisah dengan Kanna,  soal yang ini aku tak akan siap.”

“Itu tak mungkin terjadi Manami... tenangkan pikiranmu... Kupastikan hal itu tak akan terjadi.”

“Ya... sepertinya aku yang berpikir terlalu jauh.”

“Tak apa, kau tak sendirian seperti dulu. Kau punya kami.”

 “Aku hanya menginginkan waktu untuk bisa berhadapan kembali dengannya, jujur dalam hatiku aku benar-benar tak percaya harus......”

“Yaa... aku percaya padamu.” Tukas Ryota

“Eh.... kenapa?” Mataku membulat penuh tanya.

“Kau sudah berubah lebih baik,..”

Ryota menoleh ke arahku dan kami saling beradu pandang. Tatapan penuh makna dilancarkan Ryota kepadaku. Matanya seolah menyiratkan dia percaya dan yakin aku bisa menyelesaikan permasalahanku nantinya.

“Trimakasih Ryota. Kali ini aku akan membuktikan padamu kalau kata-kataku bisa dipercaya.”
Tawa kecil menghiasi ruang tamuku, tawa yang hangat dan gurauan saling bersahutan antara aku dan Ryota.

“Kau ingat tidak saat terakhir kali kita bertemu?” Sahut Ryota tiba-tiba

“Hmmm” Dahiku mengernyit.

“Setelah pertengkaran kedua pangeranmu, kau tidak lupa kan ketika aku dan Tomoya memberikanmu kuliah singkat?”

Aku berpikir keras dan menerawang jauh menjangkau ingatanku. Belum sempat aku mengingat tiba-tiba Ryota berdiri dan pamit pulang meninggalkanku termangu dikursi sofa ruang tamu.

“Jaa... aku pulang. Tidurlah dengan nyenyak.”

“Hmmm....” Sedetik kemudian aku tersadar.

Setelah Ryota beranjak pergi, kututup dan kukunci pintu dan secepat kilat kembali ke pembaringan. Kurasa aku mulai mengingat sesuatu yang dibicarakan oleh Ryota sebelum ia pulang.

Kemudian aku seolah terhisap waktu beberapa taun yang lalu....

~~~
Ryota berdehem. Kemudian dengan lancar ia mengungkapkan isi hatinya, apa yang ada dipikirannya. Semuanya ia keluarkan dan ia bercerita di kursi bangku dimana ia berada.
Beberapa kali aku menoleh kearahnya saat ia berbicara. Dengan mata yang nanar kemudian telinga yang berdenging dan tak fokus dengan semua yang Ryota bicarakan, aku hanya menangkap beberapa perkataan Ryota yang cukup menohok perasaanku. 

“Aku hanya ingin kau menjadi wanita yang punya empati dan peka terhadap orang lain. Memang seharusnya aku tak berkata seperti ini, mengingat kau yang mungkin tak menganggapku sebagai sahabat melainkan hanya sebagai teman yang hanya disapa kemudian berlalu. Mungkin kata-kataku ini sangat jahat, dan aku sangat minta maaf atas ucapanku ini. Tapi ini semua demi kebaikanmu.”

Aku masih terpekur diam tak mampu berkata-kata. Aku hanya bisa menerawang menatap suasana di luar kelas yang sudah menggelap dari pintu kelas yang terbuka lebar.
“Aku sebagai orang yang peduli padamu hanya ingin memberimu nasehat jika kau ingin menikmati indahnya dunia, cobalah untuk membuka matamu pada warna warni kehidupan. Dan cobalah untuk membuka hatimu sedikit pada orang yang peduli padamu. Percayalah mereka tak akan mungkin menuntunmu ke arah yang salah.

Suara kali ini datang dari arah depanku, dan ini Tomoya yang sedang berbicara.
“Rubahlah sedikit demi sedikit hatimu yang sekeras batu itu agar menjadi sedikit lembut. Dunia tak membutuhkan wanita berhati batu.”

Aku semakin terpuruk

“Aku tahu kata-kata ini terlalu berat untukmu, tapi kami berdua telah menganggapmu sebagai gadis spesial kami. Kami sangat menyayangimu dan ingin melindungimu sebagai sahabat yang kami berikan tempat di hati kami masing-masing. Bukalah hatimu untuk kami Donna, jangan mejadi seperti ini selamanya.”

Sebuah pelukan hangat dari belakang tubuhku. Ryota. Karena aku masih melihat dengan jelas Tomoya ada didepanku dan tersenyum hangat seperti layaknya seorang kakak. Tiba-tiba ada sesuatu yang hangat dalam hatiku entah apa namanya tapi rasanya tidak bisa aku jelaskan dan rasanya luar biasa. Rasa ego yang membara dalam hatiku perlahan memudar sedikit demi sedikit.  Biasanya aku tak pernah menyetujui kata-kata dari seseorang namun kali ini aku membenarkan kata-kata mereka.

Tiba-tiba aku merasakan mataku memanas, ada sebulir air yang jatuh dari kelopak mataku. Aku menangis merasakan perlakuan teman-temanku, ah sahabatku. Tomoya memelukku dari depan. Ada sesuatu yang mencair di hatiku..

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“Kumohon... beri tahu aku dimana alamatnya. Aku benar-benar ingin bertemu dengannya setelah sekian lama...”

BERSAMBUNG.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Wohooo pemanasan di awal 2016.

Kapan-kapan Main Lagi Ya....

14 komentar:

  1. Duuhh Gustiiiii ...
    Terima kasiihhh telah membukakan pintu rajin untuk neng geulis ini memposting cerita yg hampir setahun tak kunjung tau lanjutannya ..

    "Kumohon cepatlah posting kelanjutannya .. aku ingin segera membacanya setelah sekian lama .."

    BalasHapus
  2. mbak widi, yaampun.... baru buka blog nih kudet banget...
    aw aw aw aw aw aw awwwwww kepo banget niiiih gimana kelanjutannya.....
    yaampun setelah sekian lama mbak... hahaha
    thank you mbak widiii.... *big hug*

    BalasHapus
    Balasan
    1. setelah sekian lama dan belum end end juga ? keterlaluan penulisnya hehehe.
      *peluk ukhti*

      Hapus
  3. wahh setelah sekian lama akhirnya ada lanjutannya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. haha lanjutannya masih kentang banget

      Hapus
  4. Jgn ngaret trlalu lama yh mbak Widi.. Sorry baru mampir..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah maaf ya, ini pasti ngaret lama banget

      Hapus
  5. Chapter 16 nya ada gak kak? Antusias bgt ini sampe nglembur bacanya 😀

    BalasHapus

Feel free to comment... silahkan....