Selasa, 07 Oktober 2014

Fanfiction One Ok Rock Why ? Chapter VI

Fanfiction One Ok Rock Why ? Chapter VI
Author : Parasarimbi







“Berdandanlah yang cantik malam ini, kau akan kujemput pukul 7.” Ujar Alex di seberang. 

Apa katanya? Aku disuruh berdandan cantik? Apakah ia tak menyadari bahwa aku sudah cantik walau tak berdandan? Ah baiklah itu hanya kesombongan dalam hatiku saja dan itupun aku berbicara dengan diriku sendiri.

“Aku tidak bisa, aku ada latihan malam nanti...” Jawabku malas dengan mata masih terpejam seolah tak ingin cahaya masuk kedalam kedua bola mataku.

“Jangan berbohong. Kau tidak ada jadwal latihan malam.” Sergah Alex.

“Ah iya, Aku lupa kau memang sangat susah dibohongi, Baiklah, semoga aku bisa bangun nanti sore dan segera bersiap.”

Alex menelponku ketika aku sedang menikmati tidur siang yang sangat langka kudapatkan saat ini mengingat aktivitasku yang sangat padat. Aku sedang sangat malas untuk menghindari Alex karena harus memerlukan taktik yang benar-benar menguras otak karena ia memang susah untuk diberi alasan apalagi dibohongi. Jadi aku lebih memilih untuk mencoba nyaman bersamanya tapi dengan syarat ia tak boleh sekalipun menyentuhku. 

Aku dan Alex tak pernah merasakan bersentuhan kecuali saat pertama kali bertemu di klub malam di malam yang suram saat itu. Alex membuktikan hal itu dan terbukti ia tak pernah sekalipun menyentuhku bahkan berjabat tangan. Ia juga membuktikan bahwa ia tak melakukan apapun pada Nakayan, itupun karena aku benar-benar memohon pada Alex dan dan mencoba menepati janjiku untuk tidak mendekati Nakayan. Hey... mendekati? memangnya aku ini tipe wanita pecinta laki-laki muda? Tentu saja tidak. Itu hanya pikiran Alex saja. 

Tapi sejak terakhir aku berbicara pada Nakayan ketika bersama-sama membenahi jaring net pada beberapa waktu yang lalu membuat hatiku sedikit mengganjal. Bayangannya kadang muncul untuk beberapa saat kemudian menghilang. Apakah aku mulai memikirkan Nakayan? Apalagi saat kulihat matanya memicing seperti elang yang marah, ia seperti.... Arggh... aku tak tahu harus menjelaskannya seperti apa. 

Sejak saat itu Nakayan seolah mengambil jarak padaku, ia tak lagi seperti dulu yang bercanda tanpa harus merasa canggung. Bahkan berbicara pun ia sangat formal dan hanya berbicara seperlunya. Aku benar-benar rindu pada kebersamaanku dengan Nakayan seperti dulu. Aku ingin bisa berbicara dan bercanda dengannya secara leluasa, tapi demi keamanan dirinya aku harus menjauhinya. Keputusan yang tepat yang pernah kubuat karena Alex juga membuktikan ucapannya, jadi.. aku dan Alex impas. 

~~~~~~~~~~~~~

“Kau sudah siap? Aku dalam perjalanan ke apartemenmu. 10 menit lagi akan sampai.” 

“Tentu saja sudah... kau pikir sudah berapa kali kau menelponku demi memastikan agar aku tepat waktu?!” Ucapku ketus.

“Hahaha...” Alex hanya terkekeh kemudian mematikan telponnya.

Dia memang suka seperti itu, protektif dan menyebalkan. Kalau saja ia tak menelponku terus-menerus mungkin dandananku sudah selesai daritadi. Dengan dandanan yang tak terlalu mencolok aku memakai gaun berwarna hitam dengan corak keemasan di sekitar leher. Gaun sederhana dengan panjang dibawah lutut terlihat sangat cantik ketika membalut tubuhku. Rambut kuluruskan hingga berpadu manis dengan gaunku. Aku tak memakai aksesoris apapun karena aku sama sekali tak menyukai pernak-pernik aksesoris walaupun aku tahu itu sangat berguna untuk menunjang penampilan. High heels hitam siap untuk menopang tubuhku selama acara pesta berlangsung. Aku berdandan seperti ini bukan tanpa alasan, selain karena aku ingin segera move on tentu saja aku juga ingin sedikit melirik seseorang jika ada yang menarik dipesta. Ah sepertinya aku sudah berubah menjadi gadis genit saat ini. 

Pukul setengah tujuh kurang lima menit aku sudah bersiap di lobi apartemen menanti kedatangan lelaki menyebalkan beserta pengawalnya. Tak selang lama aku menunggu, sedan hitam mengkilat berhenti di depan lobi dan keluarlah seorang lelaki berparas bule sembari menaruh ponsel di telinganya. Ponselku bergetar. Tak salah lagi ia memang sedang menelponku. 

“Shoko... aku sudah menunggumu di lobi.”

“Aku juga sudah di lobi Alex....”

“Oh betulkah? Aku tak melihatmu...? pipp” Ujar Ales langsung mematikan ponselnya seketika.

Dengan langkah yang hati-hati aku menghampiri Alex. Langkah demi langkah kupijak hingga sampailah aku berdiri di hadapan Alex. 

Alex tak mengedipkan mata. Bibirnya sedikit menganga dan matanya tak lepas memandangiku. Aku sedikit risih dibuatnya dengan tatapan mata yang tak biasa dari Alex.

“Alex...?”

Alex tergagap dan tersadar dari lamunannya. Entah apa yang dipikirkannya aku tak ingin tahu.

“Ehmm ah iya.... mari segera berangkat sebelum acara dimulai...”

“Okay...”

Alex bergegas masuk kedalam mobil dan aku menyusul dibelakangnya. Aku duduk bersebelahan dengan Alex di jok belakang mobil, sementara sang sopir berada di belakang kemudi siap mengantarkan aku dan Alex ke tujuan. Mobil melesat dengan kecepatan sedang.

~~~~~~~~~~~~

“Hei... !”

Aku tak menghiraukan teriakan Alex.

“Hei ! Kau kenapa?”

Aku masih terdiam dan berjalan cepat setengah berlari untuk meninggalkan lokasi acara pesta sebuah perayaan. Alex tetap mengejarku hingga keluar menuju jalan dan berusaha menghentikan langkahku. Diraihnya tanganku dan ditarik untuk menghadap ke arahnya.

“Kau kenapa??? Apa yang kau lakukan tidak sopan karena meninggalkan pesta !”

“...............”

“Ayo kita kembali...” Alex mencoba menarikku kembali namun aku masih bergeming ditempat.
Alex memandangiku dengan heran, dia baru menyadari sesuatu yang terjadi padaku. 

“Shoko... Apa yang terjadi? Katakan padaku ada apa denganmu?”

Air mata merebak di pelupuk mataku

“Shoko ! Tatap mataku ! Katakan padaku !” Alex terlihat sangat panik melihat keadaanku.

Aku hanya membuang muka menatap ke arah lain, sementara air mataku mulai menetes di pipi perlahan-lahan. Alex mendekat langkah demi langkah. Kurasakan tangan hangat mengusap pipi yang basah oleh air mata, kedua telapak tangan Alex menangkup wajahku dan ia berbisik.

“Katakan padaku apa yang membuatmu menangis?” Bisiknya yang terdengar sangat merdu.

“Hmmmphhhh................” Tangisku mulai pecah.

Alex terlihat gelagapan dan seakan tak tahu apa yang harus ia lakukan melihatku menangis di depannya, depan matanya. Alex merengkuh tubuhku kemudian memelukku dalam dekapannya.

Aku menangis di bahu Alex, bahu lelaki yang sangat tidak aku inginkan keberadaannya. Lelaki ini bersedia membagi bahunya untukku bersandar dan berurai airmata. Lelaki ini tak pergi ketika air mata turun seperti mendung yang sudah menghitam dan berat seakan siap menumpahkan air hujan yang lebat. Lelaki ini ah.....

Tak ada hal yang ingin kurasakan saat ini kecuali sebuah pelukan hangat dan menenangkan. Pelukan yang nyaman seolah siap menahan tubuhku jika tiba-tiba merosot kebawah karena tak kuat berdiri karena seakan kaki ini tak berhenti gemetar. Ada hal yang membuatku sangat jatuh seperti ini, seolah aku ini adalah barang pecah belah yang ringkih dan mudah pecah. Ada hal yang didalam acara pesta yang membuatku untuk berlari menjauh sejauh mungkin agar hati ini tak perlu lagi merasakan hal yang seharusnya tak kurasakan lagi. 

Kenapa?

Kenapa aku harus melihatnya? Senyum nya yang mewakili perasaan hatinya terlihat begitu bahagia. Aku senang melihatnya.

Tapi aku tak senang ketika bahagianya bukan bersamaku, tapi bersama wanita yang yang dahulu kulihat. Aku tak senang.

Mereka berdua terlihat bersukacita disana sembari memasangkan cincin berlian yang aku tahu pasti berharga mahal di masing-masing jari manis sebelah kanan. Balutan gaun cantik berwarna biru tosca dan hiasan rambut yang indah itu membuat ngilu seluruh sendiku. Lelaki yang disampingnya yang terlihat sangat tampan menggunakan tuxedo mahal membuatnya terlihat seolah lelaki paling bahagia sedunia. Rambutnya yang tak lagi keriting seolah membuat usianya lebih muda dari seharusnya. Acara yang dihadiri ribuan tamu di ballroom sebuah hotel mewah di Tokyo ini sangat mewah, banyak tamu berwajah barat turut hadir menyemarakkan pesta kebahagiaan Taka dan wanitanya. Pesta pertunangan yang sangat mewah. 

Hatiku benar-benar sakit.

Aku yang semula menggandeng lengan Alex dengan percaya diri mulai merasakan hal yang mengharuskan aku pergi dari pesta ini, betul aku harus lari. Aku tak tahu kalau ini adalah pestanya. Pesta kebahagiaan nya dan pesta nestapa dalam hatiku.

Demi Neptunus aku tak sanggup ada disini walau hanya 5 menit.

Aku berlari keluar dari ballroom secepat mungkin setelah sebelumnya aku melepaskan gandenganku dari tangan Alex. Reaksi terkejut kentara dari bahasa tubuh yang ditunjukkan Alex. Ia langsung tanggap dan segera berlari menyusulku untuk kemudian mencoba membawaku kembali kedalam hingar bingar pesta.

Dan kini sudah hampir beberapa lamanya aku berada dalam pelukan Alex. Menumpahkan bulir air mata yang entah mengapa tak segera habis dan mengering hingga membasahi jas yang dikenakan Alex. Aku yakin Alex pasti akan menghukumku untuk mencuci jasnya yang sudah kotor karena air mata dan sebagian make up yang menempel di jas. Tapi ini bukan saatnya memikirkan jas Alex ataupun memikirkan mencuci jas Alex. Ini tentang hatiku, perasaanku.

Aku melepaskan pelukan Alex. 

“Terimakasih sudah menyediakan bahu untukku. Aku sangat minta maaf jika aku berbuat tidak sopan. Tapi kumohon kali ini aku ingin pulang. Aku ingin sendiri.”

“Akan kuantar kau pulang...”

“Tak perlu !” Sahutku cepat.

“Tapi kondisimu sedang tak baik...”

“Aku baik-baik saja, aku hanya perlu sendiri. Kumohon kau mengerti Alex. Ijinkan aku untuk menikmati waktu untukku sendiri.”

Alex hanya terdiam dan aku segera berlalu dan berjalan dalam kesendirian. Posisi seperti ini persis saat aku dikecewakan olehnya yang tak datang dalam acara ulangtahun yang sudah kupersiapkan. Aku menikmati kesakitan yang kurasakan. Rasanya seolah aku yang paling merasakan sakit karena patah hati di dunia ini. Seolah aku adalah gadis yang terbuang dari kerumunan tanpa ada seseorang yang menyadari keberadaanku. Ku jinjing high heels yang sedikit merepotkan jalanku, aku telanjang kaki lagi dengan gaun yang masih melekat di badanku serta dandanan make up yang berantakan membuat diriku terlihat seperti badut penghibur. Air mata masih mengalir tanpa ampun. Agaknya janji pada diriku sendiri untuk bisa secepatnya move on dari lelaki itu masih sulit untuk ditepati. Logika dan perasaan seakan tak singkron untuk hal yang satu ini. 

Aku tak menyadari sudah berapa ratus langkah sudah kutapaki, aku melamun. Aku tak memperhatikan jalan sama sekali dan aku hanya ingin berjalan dimana kaki ini ingin melangkah tanpa memperdulikan sekitar. Hingga sampailah aku disebuah taman kecil yang sunyi dari hiruk pikuk kesibukan malam. Ditemani dendangan serangga yang seakan mengerti kesedihanku dan mencoba menghibur lewat nyanyiannya. Aku menutupi wajahku dengan kedua telapak tangan, perasaanku benar-benar sangat kacau. Sudah berapa lama aku menyendiri pun tak jua kupikirkan ketika langkah kaki mendekat dan sosok itu duduk disamping bangku yang kosong di sebelahku. 

“Kau mengikutiku...?” Gumamku dengan telapak tangan yang masih menempel di wajahku dan dengan mata terpejam.

“Ya...”

“Kenapa?”

“Aku mengkhawatirkanmu..”

“Kau harus kembali ke pesta, kenapa kau masih disini?”

“Tidak!” Alex tak bergeming di tempatnya.

“Kembalilah ke pesta...”

“Aku memilih disini.” Ucapnya santai tanpa beban.

“Kenapa Alex...? Kalau kau tamu undangan yang baik sebaiknya kau mengikuti acara hingga selesai.” 

“Bagaimana aku bisa pergi kepesta sementara ada wanita rapuh disampingku?”

“Aku baik-baik saja. Iya... aku baik baik saja...” Desahku putus asa.

“Aku tidak bodoh Shoko, kondisimu sedang buruk.” Sorot mata tajam milik Alex mengintimidasiku. 

“Aku tidak apa-apa, percayalah Alex... tak usah pedulikan aku.”

“Kau sudah memintaku untuk tak pernah mempercayai ucapanmu. Jadi maaf aku tak percaya jika kau mengatakan kau baik-baik saja.”

“Oke.. baiklah Alex aku memang sedang tidak baik dan bisakah kita tak beradu argumen. Aku benar-benar sedang tidak dalam mood yang baik.”

Hening.

“Bolehkah aku tahu apa yang membuatmu menangis?”

 “Alex... “Aku sangat gusar dan menghela napas berat, “Kumohon bisakah kau tak menanyakan hal itu? Dan jika kau masih ingin disini bersamaku bisakah kau tak menanyakan apapun. Kumohon....”

“Baiklah...”

Dalam keheningan aku dan Alex mengatupkan bibir rapat-rapat. Hanya suara serangga yang menjadi penengah diantara kami. Berkali-kali aku bergerak seakan tak nyaman dengan cara dudukku. Kilasan peristiwa beberapa waktu yang lalu memang membuatku tak bisa tenang dan berhati lapang. Hanya ada kecemburuan dan kecemburuan menguasai, selebihnya rasa masih ingin memiliki. Ah....

Aku baru menyadari udara malam ini begitu dingin dan membuatku mengigil, walaupun gaun yang kupakai bukanlah gaun yang terbuka namun dingin masih menyergap tubuhku. Aku mengusap-usap lenganku untuk mengusir rasa dingin dan getir. Tiba-tiba tubuhku terasa hangat, jas berwarna hitam yang sebelumnya terdiam manis di badan Alex berpindah ke badanku. Sangat nyaman.

Entah kenapa seketika aku merasa ingin menangis kembali setelah sebelumnya telah tumpah membasahi pipi ketika sedang berjalan menjauhi tempat berlangsungnya pesta. Yah... lagi-lagi aku menangis, kali ini lebih deras mengalir dan... tangisku kali ini lebih keras. Aku menangis sesenggukan, sejujurnya aku malu pada lelaki disampingku. Malu menunjukkan kelemahanku sebagai wanita. Tapi bukankah kodrat wanita memang lemah? Lemah ketika sedang ditimpa masalah... masalah tentang cinta yang bermasalah...

Badanku bergoncang hebat, tangisku sangat kuat. Oh tidak... 

Suara tangisku pun perlahan makin keras, dan perasaan tak karuan aku mencoba menutupi tangis kerasku dengan menutup mulutku berharap suara tangisku tak semakin kencang. Apa daya... menutupi mulutku membuatku tak bisa bernafas dan tak bisa menangis dengan leluasa.
Alex melepas tangan yang mencoba meredam suara yang keluar dari bibirku ketika aku menangis, 

“Menangislah.... keluarkan sampai kau lelah... jangan pernah kau tahan...”

Tangisku semakin deras.

Alex menarik tubuhku hingga aku merangsek ke dalam pelukannya. Nyaman.

“Keluarkan semua bebanmu, keluarkanlah semua yang membuatmu sedih Shoko...”

Aku terisak

“Alex.....”

“Hmmmm” Gumamnya. 

Aku bersumpah aku bisa mendengar detak jantung Alex dibalik kemeja dan suara ketika ia menggumam karena telingaku menempel disana.

“Sakittttttt.........” Ucapku dengan suara lirih.

Alex semakin mengeratkan pelukannya. Dibalik pelukannya ia seolah ingin menghantarkan suatu energi yang membuatku lebih kuat.

“Sudah kubilang, menangislah hingga puas... hingga rasa sakitmu berkurang atau bahkan menghilang...” Bisik Alex lembut.

Aku baru tahu sisi lain dari Alex yang kukira adalah seorang lelaki yang sangat kasar, pemaksa, pencemburu dan egois. Tapi entah mengapa dari peristiwa ini, dari gerak-geriknya malam ini aku bisa mengatakan bahwa lelaki berparas tampan juga bisa memperlakukanku dengan baik.

Sejuta pikiran berkecamuk dalam angan-angan disaat aku menangis dipelukan Alex. Aku tak tahu sudah berapa lama aku bertingkah seolah sedang dierami oleh induk manakala aku terbangun di pagi hari dengan berada disebuah ranjang empuk dan nyaman di kamar seseorang yang asing.

Bersambung.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Ga ada note yak.. ngantuk berat...
Met Malem.
.
.
Terimakasih Sudah Berkunjung
.
.
Kapan-kapan Main Lagi ya...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Feel free to comment... silahkan....