Senin, 02 Juni 2014

Fanfiction One Ok Rock With You (Last Part)

With You
(Last Part)

Author : Parasarimbi

Genre : Friendship

Lenght : Twoshoot

Cast : Taka, You/Me

Disclaimer : Story is Mine



~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“Ayo kita bertemu, aku sedang senang hari ini dan aku ingin mengabarkan kabar yang menggembirakan.”

“Apa?”

“Lebih baik kita bertemu,”

“Aku sibuk.”

“Yasudah... kalau kau sibuk aku tak jadi mentraktirmu....”

“A....a...a...aaahhh... tidak aku tidak sibuk. Kapan kita bertemu?”

“Nanti malam pukul 7 ditempat biasa. Oke?”

“Ok.”

Aku mengirimi Taka pesan singkat untuk mengajaknya bertemu di kafe, aku ingin mengabarkan kabar gembira. Well setidaknya itu kabar yang menggembirakan untukku. Rasanya sudah tidak sabar untuk menunggu hingga pukul 7 dan berceloteh tentang hal yang ingin kuceritakan kepadanya. Dia harus tahu dan orang pertama yang harus tahu, karena dia sahabat yang paling kusayangi. Dia pasti sangat bersemangat mendengar kata “traktiran” dan itu adalah senjata andalanku untuk merayu ketika menginginkan sesuatu, hahaha.

Masih sekitar pukul 4 sore, pekerjaanku di kantor sudah hampir selesai jadi aku agak sedikit bersantai dan merapikan meja kerjaku yang berantakan. Kuraih bingkai foto yang menampakkan dua wajah dengan dua ekspresi yang berbeda dan dengan gaya yang berbeda. Wajah itu adalah wajahku dan wajah Taka tentunya. 

~~~~

“Jadi apa?”

“Apa?”

Taka mengernyitkan keningnya. Aku juga berbuat hal yang sama seperti Taka, mengernyitkan kening.

“Entahlah. Kabar gembira mungkin? Seperti yang kau katakan di pesan teks?”

Aku seperti tersadar akan sesuatu.

“Aaak... Kau benar, untung kau mengingatkan.”

“Apa?”

“Ummm....” Aku menggumam pelan.

“Ummm?” Taka menirukan caraku bergumam.

“Aku mendapatkan promosi jabatan sebagai kepala divisi di perusahaan!” Pekikku pelan namun terdengar nada gembira yang kentara.

Taka yang sedang meminum teh hijau hangat di cangkir berwarna putih itu tersedak. Ia terbatuk-batuk kecil sembari meletakkan cangkir dan mengambil tisu untuk membersihkan mulutnya dari percikan air yang menyembur keluar.

“Hati-hati...! Kau minum seperti raksasa saja!” Pekikku terkejut.

“Itu karena kau berteriak seperti raksasa !” 

“Ya ya ya... sini kubantu.”

“Tidak usah, aku punya tangan tak perlu kau bantu.”

“Ya sudah...” 

Setelah Taka sudah tak sibuk dengan acara bersih-bersih bekas percikan teh hijau, ia terlihat antusias untuk mendengar ceritaku. Taka sangat bersemangat untuk menyimak semuanya dari proses riwayat pekerjaanku dari a hingga z. Sesekali kami tertawa bersama ketika aku menceritakan tingkah laku bosku yang sangat pelupa dan selalu bertanya dimana ia meletakkan barang yang terakhir ia bawa. Padahal barang yang dimaksud masih tergenggam di tangannya. Tawa lepas dan senyum lebar mengiringi pertemuan hari ini. ah iya aku lupa menyampaikan suatu hal....

“Tapi, aku harus berpindah kantor yang jauh dari sini...”

Perlahan namun pasti senyum lebar Taka yang menyenangkan itu terlihat memudar. Wajahnya terlihat tak seantusias sebelumnya. Aku merasakan perbedaan itu, terutama dari sikapnya dan kata-katanya.

“Maksudmu?” Nada suara Taka terdengar menyelidik.

“Aku  dipindah-tugaskan di kota lain, dan pasti kita akan tinggal berjauhan. Aku sedih jika harus berpisah denganmu...”

Taka tak menjawab apapun. Ia duduk dengan tak nyaman, dengan salah satu telapak tangan yang menutupi mulutnya. Sedangkan aku yang duduk disampingnya merasa sedikit gelisah dan mencoba mencairkan suasana dengan sedikit gurauan.

“Kau jangan menangis ya jika kutinggal sendiri? Dan jangan mencariku sambil menangis, hehhe.” Aku tahu gurauanku ini terdengar amat sangat tidak lucu namun aku memaksa kata-kata ini keluar dari mulutku.

“Lalu, apa peduliku? Kau berpindah ke ujung dunia pun aku tak akan mencarimu.” Suara Taka terlihat berbeda, nada tak peduli keluar dari bibirnya.

“Hei.. kenapa kau jahat sekali padaku. Kau kan sendiri yang mengatakan kalau aku adalah sahabatmu.” Jujur aku sedih mendengar Taka mengatakan hal demikian.

“Lalu, aku harus bagaimana? Kau kan yang akan berpindah kerja? Kau ingin aku mengikutimu untuk bekerja di kantor yang sama sepertimu? Tidak akan.”

Kini yang kudengar nada ketus yang keluar dari bibirnya.

“Aku tak memintamu untuk berpindah kerja. Hei..tunggu kenapa tiba-tiba kau jadi menyebalkan?”

“..............”

Taka hanya terdiam dengan wajah gusar. Di ambilnya cangkir teh hijau yang masih separuh dan diminumnya sampai habis. Ia angkat tinggi cangkir itu di atas mulutnya untuk memastikan tetes terakhir dari greentea masuk kedalam mulutnya. Suasana aneh menyelimuti pertemuan antara aku dengan Taka malam ini, pembicaraan terdengar menjadi kurang nyaman. Tak bisa kujabarkan betapa tak menyenangkannya pertemuan terakhir antara aku dan Taka. 

Malam itu keadaan agak buruk dan semakin memburuk setelah hari dimana aku berpindah domisili dan pekerjaan. Tak ada perpisahan yang mengharu biru dengan sebuah pelukan terakhir di stasiun kereta. Ia hanya duduk di bangku kereta dengan wajah yang sangat gusar. Ia tak mendekatiku dan mengucapkan kata apapun. Aku tahu ia pasti sangat sedih dengan kepindahanku di kota lain yang cukup jauh karena aku juga merasakan demikian. Siapa lagi yang akan menjadi teman bicara? Siapa lagi yang akan menjadi temanku berbagi cerita?
Namun saat kereta berjalan, sebuah pesan teks masuk di ponselku,

Hati-hati dan jaga diri baik-baik disana

Senyumku tersungging, ia masih peduli padaku meskipun ia sedang mengalami rasa sedih yang sama denganku.

Kau juga. Akan kukabari jika sudah sampai.

Kubalas pesan Taka dan kusimpan ponselku di dalam tas dengan sedikit menghirup nafas lega.

~~~~

Hey Taka... kau tahu tidak, ternyata aku sekantor dengan sahabat lamaku. Lebih tepatnya mantan kekasih dari mantan kekasihku juga bekerja di tempat yang sama denganku. Aaah aku tak mengerti dengan sikapnya, ia seolah memusuhi dan tak mau mengajakku bicara sama sekali. Lebih mengherankan lagi ia sering usil dengan menyindirku dengan suara keras ketika ia berbicara dengan teman kantor yang lain. Menjengkelkan sekali !

Sent

Aku menghela napas pelan. Kupikir di kantor baru ini semua akan berjalan menyenangkan. Namun semua tak seindah anganku, apalagi saat aku mengetahui ternyata aku berbagi kantor yang sama dengan sahabatku yang bahkan kini tak sudi untuk berjabat tangan denganku. 

Belum lagi gangguan dari mantan kekasihku yang masih meminta kembali merajut kisah denganku. Aku berusaha untuk tak menggubris permintaannya, namun ia semakin tak tahu diri. Hal itulah yang selalu mengganggu pikiranku, aku menjadi tak fokus dalam bekerja. Kerap kali aku mendapat teguran dari atasanku karena aku sering terlihat melamun. 

Seandainya ada Taka disini, mungkin aku bisa meminjam bahunya untuk bersandar dan mengeluarkan semua keluh kesah yang ada dalam benakku. Semuanya seolah baik-baik saja bila ia disini. Namun sejak kepindahanku di kota ini, ia susah sekali dihubungi. Ia akan menjawab pesan teks, email maupun telpon dariku sesuka hatinya. Kadang ia memang menyebalkan namun aku tahu ia sangat mengkhawatirkan aku. 

Hey Taka ! Jangan sombong ! Jangan pura-pura sibuk ! Kau harus mendengar lagi ceritaku yang sangat menyebalkan... amattttt sangat menyebalkan. Mantan kekasihku masih sering menggangguku, mantan sahabatku juga begitu. Aku sering kena omel atasanku. Pekerjaanku menjadi buyaaaaaaaaaaaaar....... ! Arrrrrghhhhhh menyebalkannnn....

Sent
Deretan keluhan yang kukirimkan lewat email maupun pesan teks bertubi-tubi kukirimkan kepada Taka. Aku mengerti ia pasti akan merasa terganggu dan menganggap semua pesanku adalah spam, ah dan pasti ia akan menganggapku spammer

~~~~

Sudahlah daripada kau mengeluh terus lebih baik keluarlah dari pekerjaan dan menikah denganku.

Apa maksudmu?

Maksudku sudah jelas, jadilah ibu rumah tangga yang menantiku pulang bekerja.

Kau sedang tidak mabuk?

Betul, mabuk karena cinta.

Dasar pemabuk.

Hei.. aku tidak bercanda ! Seriuslah sedikit !

Aku tidak percaya kalau kau serius,

AKU SERIUS !!!

AKU TIDAK PERCAYA !!!

PERCAYALAH !!!

TIDAK MAU ! APA BUKTIMU ?!!

KAU MAU BUKTI??? LIHATLAH KELUAR & KEBAWAH DARI JENDELA RUANGANMU..

Deg !!!

Dengan penuh keraguan dan jantung yang berdegup menyentak jantung kulangkahkan kaki perlahan menuju jendela ruang kerjaku yang mengarah keluar yang berisi pemandangan gedung-gedung bertingkat. Kusibak tirai yang sedikit kututup karena cahaya matahari yang terlalu terik dan menyilaukan. Aku melongok ke arah bawah di trotoar yang berada di depan kantorku. 

Dia disana.

Taka berdiri di bawah sana.

Dia mengarahkan tepat pandangan matanya kepadaku yang sedang melihat keberadaannya dari atas.

Segera kututup dengan cepat tirai dengan jantung yang bergejolak. Darahku berdesir cukup cepat, dan perasaan apa ini...?
Seolah ada rasa yang membuncah dari dalam hatiku, seolah isi dalam otakku membiaskan kebahagiaan yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Tak seperti biasanya saat melihat dirinya hatiku segembira ini. 

Pippp

Kau tak mau menemuiku? Jahat sekali...

Pesan teks dari Taka.

Ahh aku sudah terlalu lama larut dalam pemikiranku, aku harus kebawah dan menemuinya. Ia pasti sudah menempuh perjalanan panjang dan jauh hanya untuk menemuiku. 

Tunggulah sebentar cerewet !

Tergesa-gesa aku keluar dari ruangan dan menaiki lift menuju lantai dasar. Seperti tak sabar untuk segera sampai seolah lama sekali lift ini menurun. 

Lantai 4

Lantai 3

Lantai 2

Lantai 1

Lantai dasar.

Tringggg

Pintu lift terbuka lebar, aku bergegas keluar untuk menemui laki-laki sahabat kesayangan berambut keriting dan sedikit cerewet. Aku sudah beberapa langkah lagi menuju pintu keluar, dan Taka sudah menyadari kehadiranku. Dengan penuh senyum mengembang di bibirnya saat aku berjalan menghampirinya, ia berujar

“Selamat siang nona...”

“Kau  gila!”

“Yap, dan kau adalah sahabat dari orang gila. Aku betul kan?”

“Takaaaaa.....” 

“Baiklah-baiklah. Segera kemasi barang-barangmu dan buatlah surat resign sekarang juga.”

“Kau boleh gila, tapi jangan mengajakku gila juga Taka...”

“Hmmmmhhh...” Taka menghela napas berat.

Aku melihat keadaan, beberapa rekan sekantor melihatku berada di luar kantor pada saat jam kerja. Merasa tidak enak, dengan keadaan ini akhirnya aku menyuruh Taka untuk pergi ketempat yang nyaman untuk berbicara empat mata.

“Baiklah.. kau pergilah dulu ketempat ini aku akan menyusul nanti.” Ucapku seraya menuliskan alamat disebuah sobekan memo kecil dengan bolpen yang selalu kutaruh di kantung kemejaku. Kuserahkan kertas itu kepada Taka, dan Taka membacanya sembari mengerutkan kening dan mengangguk-angguk tanda mengerti.

“Kapan kau akan menyusul?”

“Aku belum tau pasti Taka, tapi akan kuusahakan secepat mungkin segera kesana. Aku tahu kau pasti lelah selama perjalanan jadi lebih baik kau istirahat dulu disana. Oke. Lelaki keriting?”

“Baiklah sayang...”

“Hehhhh !!!” Hardikku dengan suara keras dan mata melotot.

“Wow. Matamu membesar seperti raksasa. Hahahahahaha. Sampai ketemu disana, jangan lupa bawalah sesuatu untuk bisa kumakan.” Ucap Taka sembari berjalan meninggalkanku.
Aku mengangguk sembari mengacungkan ibu jari jempol kananku.

“Hati-hati.. !” 

Taka hanya mengacungkan jempol tangan kirinya ke udara tinggi-tinggi tanda menyetujui.  

Masih bisa kulihat sosoknya saat ia berlalu, dengan topi hijau kesukaannya dan ransel hitam yang selalu menemaninya kemanapun. Aku begitu hapal dengan sifat dan hobi laki-laki ini, ia tak pernah menyembunyikan apapun kepadaku. Semuanya begitu lepas saat ia bersamaku, namun aku begitu heran ketika menyadari sikapnya tak sama seperti yang ia tunjukkan kepadaku saat ia bersama gadis lain.

~~~~

Di kafe kecil berwarna coklat ini, aku dan Taka bisa bercengkrama kembali. Aku rindu sekali pada lelaki keriting ini. Menanyakan kabar dan perkembangan pekerjaan masing-masing menjadi percakapan awal. Kemudian menceritakan segalanya yang terjadi pada kehidupan masing-masing dari a hingga z, membagi keluh kesahku tentang hidup dan pekerjaanku disini. 

Diiringi lantunan lagu Dave Koz mengalun syahdu di tiap sudut kafe ini. Seperti biasa saat aku bertemu dengan Taka, sofa panjang selalu menjadi pilihan untuk kami duduki. Menikmati kenyamanan berdua,  menikmati aroma ice lemon tea yang menguar dan mencicipi  cheese cake yang manis. Celetukan ngawur, tidak jelas dan terkadang lucu mewarnai obrolan kami. Hingga tiba-tiba Taka mengatakan sesuatu yang cukup membuat jantungku berdegup..

“Aku memikirkan sesuatu dimana akhirnya aku menyadari bahwa kegagalanku menjalin kasih bersama para wanita-wanita itu tak pernah berhasil karenamu.”

Aku terhenyak kemudian menunjuk hidungku sendiri.

“Aku?”

Taka hanya mengangguk.

“Bagaimana bisa? Aku bahkan tak pernah mengenal siapa gadis-gadis yang pernah kau kencani...”

“Memang.” 

“Lalu? Kenapa kau menyalahkanku?”

“Selama ini aku tak pernah puas ketika mendapatkan gadis yang kusukai.”

“Puas? Maksudmu? Mereka kurang hot?” Tanyaku menggoda.

Aku terkikik geli dan Taka pun terpancing untuk ikut tertawa lebar.

“Ya.. aku tak pernah puas meskpun mereka cantik, baik dan mereka sangat mempesona.”

“Terdengar sangat menyenangkan bisa mendapatkan gadis sempurna seperti itu, lantas... apa yang membuatmu tak puas?”

“Mereka tak bisa memahamiku seperti kau memahamiku.”

Aku termenung dan sedikit terkejut dengan kata-katanya. Tanpa sadar aku menggigiti sedotan yang masih berada dalam mulutku.

“Mungkin aku tak pernah berhasil dengan wanita-wanita itu karena aku selalu menilai dan membandingkan mereka denganmu.” Taka melihatku dari lirikan matanya yang ia tujukan kepadaku.

Entah tak tahu lagi apa yang harus kulakukan mendengar Taka mengatakah hal yang begitu serius seperti ini. Sedotan yang kugigiti sudah tak beraturan. Taka sedang mabuk... tidak tidak ia tidak pernah minum alkohol dan ia tidak suka alkohol jadi kemungkinan dia mabuk sangat kecil sekali. Ya mungkin dia sudah gila, kewarasannya menghilang entah kemana gara-gara sering dikecewakan oleh wanita. Setidaknya itulah yang ada di pikiranku.

Kupegang dahi Taka, tidak panas.

“Kau pikir aku sakit huh?” Hardik Taka.

“Kupikir kau tak sadar mengatakan hal ini...” Jawabku cuek

“Kau ini gadis terbodoh yang pernah kutemui, peka lah sedikit!”

“Baiklah-baiklah aku mencoba serius..”

Pembicaraan ini menjadi sangat panjang dan benar-benar serius. Taka benar-benar serius. Ia mengutarakan keinginannya untuk menjalin sebuah hubungan yang serius denganku. Ia tidak sedang bercanda, dan Taka benar-benar aneh jika tidak sedang bercanda.

“Tapi aku tidak bisa Taka, aku masih nyaman dengan kesendirian ini.”

“Kenapa? Kau itu sebenarnya rapuh, tapi kau pura-pura tangguh. Apa kau tak lelah dengan hidupmu seperti ini?”

“Kau mengatakan aku rapuh? Bagian mana yang kau sebut rapuh? Aku menghadapi semuanya sendirian dengan baik, apa kau tak melihat itu?”

“Tentu aku melihat semuanya, aku menyaksikan dan akulah saksi hidupmu beberapa tahun belakangan. Tapi aku tetap memandangmu sebagai wanita yang rapuh.”

“Kata-katamu sangat menyinggung perasaanku.” Ujarku sambil bersedekap kesal.

“Menyakitkan bukan? Karena itulah yang sebenarnya terjadi dan aku hanya mengungkapkan fakta dan kau masih mencoba mengelak.”

“Tapi aku tetap seorang wanita tangguh, aku selalu menjadi sandaranmu saat kau butuh teman. Itulah yang membuatku merasa tangguh.”

“Yaaah terimakasih untuk itu, tapi aku bisa merasakan kerapuhan dari dalam dirimu.” Taka masih bertahan dengan argumennya

“Arrrrrgh....” Aku mengacak rambutku kesal.

Menyebalkan sekali Taka, selain suka berkata seenaknya ia ternyata juga pintar berdebat. Hal ini baru kutemukan dalam dirinya. Ia sangat serius dengan ucapannya yang ingin membawa hubungan persahabatan ini meningkat ke hubungan asmara yang lebih serius. Sedotan yang sudah tak berbentuk sudah tergolek tak berdaya di atas meja. Kini aku menggigiti kuku ku untuk menggantikan sedotan itu. Tangan Taka terulur ke gelas minumannya dan mengambil sedotan dan diberikannya kepadaku.

“Apa ini?” Tanyaku heran.

“Untuk menggantikan sedotanmu, jangan seperti raksasa yang suka menggigiti kuku.”
“Hmmmmmm...” Deheman sebal keluar dari bibirku, aku mengambil sedotan dari tangan Taka hendak memasukkan ke dalam mulutku, namun tak jadi dan tiba-tiba teringat.

“Hey ini kan sedotan bekas bibirmu..”

“Lantas kenapa? Kau jijik pada sedotan bekas milikku?” Taka memberikan penekanan pada kata-katanya di bagian ‘jijik’

“Tidak...” Tanpa banyak kata lagi aku memasukkan sedotan itu kedalam mulutku dan mulai menggigiti lagi. Entah sejak kapan aku jadi hobi menggigiti sedotan, mungkin sejak aku salah tingkah ketika Taka mengatakan beberapa hal yang mendebarkan beberapa saat yang lalu.

“Hey...”

“Hmmm..”

“Oh ayolah, sampai kapan kau akan tetap seperti ini? 

“Seperti ini apa maksudmu?”

“Kau sama sekali tak mengerti apa yang kumaksud?”

“Sedikit...”

“Kau memang tidak peka. Sudah berapa lama kita saling mengenal dan bersahabat?”

“Kurang lebih lima tahun, ada masalah?”

“Tidak. Tidak ada masalah dengan itu. Tapi masalahnya ada pada kita berdua.”

“Kita berdua? Bagian mana yang bermasalah?”

“Kita hanya sibuk dengan urusan asmara kita masing-masing di luar sana. Sedangkan Tuhan sudah menunjukkan orang yang tepat di depan mata kita.”

“............................” Aku masih bingung mencerna kata-kata Taka.

“Apa kau tak menyadari jika kita berdua saling memahami dan saling membutuhkan satu sama lain? Dan sama-sama merasa kehilangan ketika satu sama lain tak ada.”

Perasaanku seperti tertohok sesuatu. Taka benar.

“Kau benar, kita berdua saling memahami dan saling membutuhkan. Kenapa baru saja terpikirkan olehku?” Aku menggumam pelan tanpa sadar.

“Dann....kenapa tak kita coba untuk mempersatukan hati kita?”

“Tapi, aku...”

“Biasakanlah... Semua pasti akan mengalir.”

“Tapi Taka.... aku belum terbiasa”

“Sudahlah jalani saja dengan perlahan. Kau tahu sejak kepergianmu ke kota sialan ini aku tak pernah berhenti memikirkanmu.”
“Memikirkan apa? Kau saja jarang merespon..”
“Itu karena aku sebal dengan sikapmu bodoh!”
“Sikap yang mana?”
“Seperti yang kubilang tadi, Rapuh namun pura-pura tangguh. Menghadapi gangguan dari mantan kekasihmu saja kau sudah merengek padaku sedemikian rupa hingga aku yang harus turun tangan menyusulmu kesini.”
“Jadi kau melihat sisi rapuhku dari hal itu?” Aku terkekeh geli sekaligus malu.
Taka tak menjawab. Hening sejenak tanpa ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir salah satu dari kami. Kepalaku bergerak perlahan menuju bahu Taka untuk mencari sandaran. Taka menyambut kepalaku di bahunya dengan sedikit mengusap-usap kepalaku dengan salah satu tangannya. setelah sekian lama terdiam Taka memecah keheningan..
“Oh iya, bisa tidak aku meminta royalti darimu”
“Ehh.. Royalti? Royalti apa?” Kepalaku tegak kembali dan melihat ke wajah Taka.
“Royalti dari hasil menulis.” Ucap Taka santai dengan masih bersandar pada punggung sofa.
“Maksudmu? Jelaskan padaku, aku benar-benar tak mengerti”
“Kau pikir selama ini aku tak membaca cerpen-cerpen yang kau kirim di majalah atau tabloid?”
Aku terkejut, sedetik kemudian aku tersipu malu.
“Jadi kau membacanya juga? Hehe bagaimana bagus tidak?”
“Tentu saja sangat bagus, tapi pintar sekali kau mengambil ide cerita dari semua masalah yang terjadi padaku!” Ucap Taka sambil mengangkat keatas kerah pakaianku bagian belakang seolah sedang mengangkat kucing..
Aku mengacungkan telunjuk dan jari manisku membentuk huruf V, kemudian menyunggingkan senyum aneh. Aku sangat malu sekali saat Taka mengetahui cerpen yang kutulis dan kukirimkan di majalah-majalah itu berdasarkan kisah nyata yang dialami Taka. 
“Sorry...” Masih kutunjukkan senyum aneh itu untuk Taka.
“Tapi aku senang kau masih menghormati privasiku dengan mengganti nama tokoh itu bukan dengan namaku..” Taka tersenyum sangat manis sembari menatap wajahku lekat.
“Tentu saja bodoh! Kau pikir aku tega menceritakan kisahmu ke khalayak umum dan teman-temanmu, keluargamu dan seluruh dunia tahu betapa menyedihkannya kisahmu saat itu...” Cibirku.
“Sudah..sudah.. baiklah aku memang bodoh. Tapi aku masih meminta royalti darimu...”
“Kau ini matre sekali, baiklah... berapapun royalti yang kau minta akan kuberikan..”
“Benarkah?”
“Benar....”
“Janji?”
“Janji. Kau mau dalam bentuk uang atau traktiran?”
“Tidak keduanya...”
“Hahh? Lalu apa yang kau minta?”
“Royalti yang akan kau bayar seumur hidup untuk menemaniku menua hingga mati dipelukanmu... Aku hanya minta itu...” Tiba-tiba Taka memelukku erat. “Aku ingin menjadi sandaranmu saat kau lelah dan sedih. Aku mencintaimu.”
Dengan masih kaku, aku membalas pelukan Taka yang kini berubah status bukan lagi sebagai sahabatku namun kekasihku. Meskipun aku belum menjawab apapun, gerak-gerikku yang menjawab. Taka, sepertinya aku memang jatuh padanya. Kenapa aku tak menyadarinya? Aku dan Taka telah menghabiskan waktu sekitar lima tahun bercengkrama. Selama kami bersama tak pernah terbersit dalam pikiran  kami untuk menjalani suatu hubungan yang lebih dekat. 
 
~~~~
Pagi ini aku menyerahkan surat resign untuk atasanku. Aku akan melepaskan pekerjaanku dan kembali ke tempat asalku dimana nantinya aku akan hidup bersama dengan Taka. Pesan teks yang kukira main-main itu ternyata serius, Taka menghendaki aku menjadi ibu rumah tangga dan tak perlu bekerja lagi. Taka bercerita jika ia sudah mendapat pekerjaan yang lebih menjanjikan dan mampu menghidupi kebutuhan kami sehari-hari. Tiada hal yang lebih membahagiakan ketika Taka melamarku malam itu juga dan aku mengiyakan tanpa ragu. Senyum bahagia mewarnai hari-hariku saat ini. 
Aku sudah tak peduli lagi kepada mantan sahabatku yang memusuhiku, tanpa dendam aku memanggil dan mengajaknya bersalaman untuk perpisahan terakhir. Dia terlihat kikuk dan tak enak melihatku, namun aku juga melihat raut wajah bahagia terukir di wajahnya. Ia pasti bahagia dengan kepergianku. Biarlah.. tak usah kupedulikan lagi aku sudah bahagia dengan Taka yang kini disampingku. 
Dan saat mengabari mantan kekasihku karena aku akan segera menikah, ia mengancam bunuh diri atau ingin menggagalkan pernikahanku. Dengan halus aku memberinya penjelasan bahwa masih ada seseorang yang mencintai dirinya apa adanya, siapa lagi kalau bukan mantan sahabatku. Jadi pasangan yang cocok bukan, pengkhianat dengan pengkhianat.
Setelah surat resign di acc oleh atasanku, aku pulang bersama Taka menaiki kereta dan bersiap menikmati perjalanan panjang. Romansa kami di kereta masih seperti biasa, penuh dengan canda, berkata sesuka hati, saling mencibir dan debat kusir. Namun ada suatu garis lintasan yang tak bisa kuhindari. Garis lintasan cinta yang menghubungkanku dengan Taka, garis yang kemudian terpaut dan menyatu dan terikat dalam hati masing-masing. 

End.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~



Yoshhh... selesai juga nih twoshootnya, habis ini mau lanjutin pathetic girl dulu. Habis pathetic girl lanjut lagi ke Why chapter 5.. kebetulan ada foto Taka lagi party sama cewek-cewek bule jadi feelnya dapet lagi hahahahaa...


Oh iya ini postingan pertama di bulan Juni ya.. 



Welcome June !

Oke ga perlu lama-lama lagi saya sudahi dulu note saya.

Selamat malam
.
.
.
Terimakasih Sudah Berkunjung
.
.
.
Kapan-kapan Main Lagi Ya...
.
 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Feel free to comment... silahkan....