Minggu, 27 April 2014

Fanfiction One Ok Rock Why ? Chapter III





Why ? Chapter III

Author : Parasarimbi

Genre : Mengikuti arus (genre macam apa)

Lenght : Chapter

Main Cast : Me/You as Karenina, Taka as Taka, Alex as Alex. Nakajima Yuto as Nakayan.

Disclaimer : Story is mine and always mine. ~ ngeeeek

Notes : Sengaja gw kasih penambahan cast diluar OOR. Biar greget gitu ada daun muda.. hahaha ceileh...

(bayangin aja kalo Nina itu sekece ini)

~~~~~~~~~~~~~~

Keesokan hari.

Semua mata terarah kepadaku ketika aku berjalan di koridor gedung kampus dan hendak memasuki kelas yang akan kutuju. Mereka seolah menatap takjub seperti belum pernah melihatku sebelumnya. Ah mungkin mereka terkejut karena melihat perubahan dalam penampilanku. Lihat saja para gadis menatap iri kepadaku dan para laki-laki memandangku seolah tak berkedip. Apakah perubahanku ini mengejutkan mereka?

Padahal aku hanya melepas kacamata bingkai tebal yang biasanya bersarang di atas hidung dan depan bola mataku. Rambut sepunggung yang biasa kuikat kini kugerai dan kuluruskan hingga rambutku terlihat lebih berkilau. Aku juga berganti fashion yang lebih feminim dan terlihat lebih elegan dari yang biasa kukenakan. Kusapukan sedikit bedak agar wajahku terlihat segar dan lipgloss untuk menyempurnakan wajahku. Tidak ada yang spesial pada diriku, hanya berubah sedikit agar aku bisa secepatnya move on dari ingatanku bersama Taka.

Saat aku masuk ruangan kampus dan berjalan menuju salah satu bangku yang masih kosong, suara yang tadinya riuh berubah hening dan hampir semua pasang mata mengarah padaku. Dalam keheningan suara siulan muncul dan nada menggoda dari teman laki-lakiku. Mungkin ada yang aneh dengan penampilanku yang baru namun aku bersikeras tak akan peduli.
Bisik-bisik mulai terdengar dari beberapa teman wanita yang duduk dibelakangku. Dan tak berapa lama kemudian beberapa diantaranya memanggilku dari bangku yang didudukinya.

“Nina...Nina...”

“Ya?”

“Kau terlihat lebih cantik, kami sedih atas berakhirnya hubunganmu dengan Taka. Tapi kami senang kau sekarang terlihat lebih segar.”

Aku tersenyum dan menjawab dengan hati yang hangat dan mengangguk kuat.

“Ah... Mae dan Yuki, terimakasih atas ucapan tulus kalian. Aku sangat menghargainya.” 

Dan keduanya hanya menganggukkan kepala sembari mengangkat kedua jempol mereka. 

Kedua gadis itu memang gadis yang baik walau aku tak terlalu dekat dengannya.

Kelas berlangsung tertib setelah Dosen masuk ruangan dan memberikan penjelasan dan materi cukup membuat kantuk menyerang karena terlalu banyak teori yang dijabarkannya. Hingga tak terasa siang hari sudah datang dan jam mata kuliah yang membosankan itu berakhir. Aku memutuskan untuk menyendiri di kursi taman menikmati kesendirian dan hanya ditemani desiran angin dan nyanyian burung yang sesekali hinggap di pepohonan.

Siang yang begitu damai ini sedikit terusik ketika beberapa gadis mendatangi tempatku berada. Suara mereka begitu mengganggu telingaku,

“Haruna.. kau sudah dengar kabar belum kalau ada seseorang yang sedang patah hati karena dicampakkan oleh kekasihnya yang vokalis terkenal itu...”

“Oh tentu saja Yumiko, kabar itu sudah beredar dimana-mana kan? Hanya orang yang kampungan saja yang belum mendengar kabar itu... hahahahaha....” Tawa mereka pecah seketika sambil berpura-pura dan sok menutup mulut mereka dengan gaya yang palsu.

Hahh... dia lagi dia lagi... gadis itu selalu saja mengganggu ketenanganku. Saat aku masih bersama Taka dia sering membuat ulah, dan ketika aku sudah tak bersama Taka lagi dia juga seperti ini. Aku sangat tak mengerti masalah apa yang pernah kuperbuat dengannya hingga ia seakan tak lelah untuk selalu menusukku dengan kata-kata pedasnya.

“Oh iya apakah kau juga sudah melihat bahwa gadis itu merubah penampilannya? Ah kupikir dia ingin segera mendapatkan penggantinya setelah putus. Hahaha...” Tawa itu kembali terlontar.

“Tapi kupikir itu tak akan berhasil, lihat saja kekasihnya menendangnya tanpa ampun. Apalagi mendapatkan yang baru dengan cepat. Hahahaahahahaha....”

Tawa itu membuat hatiku semakin perih dan muak. Seperti biasa saat mereka menggangguku aku hanya selalu menghindar dan tak pernah menanggapi kata-katanya. Karena hanya membuang waktu seperti aku berbicara pada tembok. Aku memang tak berdarah-darah dengan segala ucapannya, tapi hatiku yang paling dalam merasakan darah seakan mengucur keluar dan mengalir deras. 

Aku beringsut dari bangku taman ini dan mulai berjalan menjauh meninggalkan mereka yang masih saja berupaya membuatku down dengan kata-kata yang mereka lontarkan.

“Oh oh oh... sang putri kita hanya bisa pergi dengan mulut yang bisu.. haha kasian sekali hidupnya...”

“Ha ha ha ha ha ha” Tawa mereka menggema di udara.

Sayup-sayup suara itu masih terdengar jauh dibelakangku dan membuat telingaku panas ketika mereka mengatakan hal itu. bolehkah jika saat ini kuibaratkan mereka adalah sekumpulan anjing menggonggong dan aku adalah kafilahnya yang berlalu? Anjing hanya akan bisa menggonggong dan selalu menggonggong, jika aku sebagai kafilahnya membalas dengan menggonggong juga berarti aku tak ada bedanya dengan anjing seperti mereka.

Anggap saja penilaianku salah, tapi setiap orang berhak memiliki penilaian masing-masing. Dan tak perlu memusingkan tiap penilaian itu karena aku hidup dan makan tidak berdasarkan dari penilain yang keluar dari mulut mereka. 

Fiuhhh...

Hanya mendengarkan mereka saja sudah membuatku lelah. Aku butuh sesuatu untuk mengembalikan kesegaran dan energiku..













 ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Menyenangkan sekali berada di taman kota saat sore seperti ini, menikmati terpaan sinar matahari yang perlahan mulai membiaskan sinar jingga. Udara yang sangat bagus untuk sekedar berjalan-jalan dan cuci mata.  Berjalan tanpa ada yang menemani memang sangat berbeda rasanya, tak bisa bercanda dengan lawan bicara dan tak bisa bercakap-cakap hangat. Tapi kunikmati semuanya, berjalan sendirian cukup menyenangkan walau tanpa Taka.
Aah lagi-lagi nama itu yang masih tertulis dihati.

Tiba-tiba sebuah bola voli berwarna biru kuning menggelinding mengenai kakiku pelan, membuyarkan lamunanku. Aku menunduk kebawah dan berjongkok mengambil bola itu dan menimang-nimang sebentar. Sesaat kemudian kudengar seorang lelaki berteriak.

“Permisi, bisakah kau lemparkan bolanya kemari?” Pinta seorang laki-laki yang masih mengenakan celana seragam sekolah dan kaos tshirt kasual berwarna hitam. Tubuhnya cukup tinggi dan terlihat sangat atletis. Dia bersama beberapa remaja laki-laki di lapangan bola voli yang terletak tepat di samping jalan raya berjarak sekitar 12 meter.

Aku melihat ke arah laki-laki itu dan melemparkannya seperti pemain yang melakukan serve atas dalam permainan voli. Bola membumbung tinggi dan tepat menuju lelaki berseragam sekolah itu berada. Dia menangkap bola itu dengan mudah dan memandang ke arahku seolah kagum.

“Wow... hebat. Lemparan yang sangat jitu !” Laki-laki berkaos hitam dan bertubuh jangkung itu memujiku.

Aku mengacungkan ibu jariku dan tersenyum padanya.

“Terimakasih...” Ucapku tak kalah lantang sebelum akhirnya aku kembali melanjutkan berjalan. Dan baru beberapa langkah kaki yang kujejakkan, laki-laki itu mengejar, menghampiri serta mengajakku berbicara. 

“Kakak....tunggu sebentar....!” 

Aku membalikkan badan...

Laki-laki itu berdiri berhadapan denganku sambil membawa bola yang baru saja kulempar.

“Ya..?”

“Apakah kakak seorang atlet bola voli?” Tanya laki-kali yang juga berwajah cukup lumayan itu tanpa basa basi.

Aku mengernyitkan alis dan menggeleng pelan, “Bukan, aku bukan seorang pemain bola voli.” 

“Tapi lemparan kakak bagus sekali, apakah kakak yakin bukan seorang atlet voli?”

“Hahahaha,” Aku tergelak sambil membenahi beberapa rambut yang tertiup angin. “Tentu saja bukan, aku hanya pernah memainkannya  saat middle school itu saja.”

“Wow, hebat....” 

Dia memuji sekali lagi. Ah aku sedikit tersipu karenanya.

“Tidak, itu bukan hal yang hebat...” Ujarku merendah.

“Kami kekurangan pemain, bisakah kakak ikut bermain bersama kami?”

Aku menoleh ke arah sekumpulan remaja di lapangan voli yang berada di tengah lapangan tersebut. Mereka memandangku dengan harapan agar aku ikut berpartisipasi bersama mereka. Aku menimbang-nimbang untuk memutuskan antara ikut atau tidak.

“Ayolah kak... namaku  Nakajima Yuto, biasa dipanggil Nakayan. Kita akan menjadi rekan yang kompak dalam satu tim jika kakak bergabung sekarang...” Tangan remaja lelaki yang mengaku bernama Nakajima Yuto itu membuat gestur seperti orang yang benar-benar memohon. 

Aahh aku jadi luluh.

“Baiklah... Aku setuju.... Namaku Karenina dan panggil saja aku Nina.”

“Ahhhh berhasil.... “ Kedua tangan Nakayan mengepal dan seolah meninju diudara. Dia terlihat begitu tampan dengan gigi gingsul yang terlihat saat tersenyum. Beberapa kawannya juga terlihat bertepuk tangan dan berseru untuk segera ikut serta.

Kami berjabat tangan sekilas dan ia berkata...

“Senang mengenalmu Kak Nina....”

“Oh iya......tapi aku tak membawa sepatu olahraga...” Wajahku menampakkan wajah kecewa.

“Oh, tak masalah dengan itu.. Aku membawa sepasang sepatu kets wanita milik kakakku sebentar lagi ia akan sampai disini...” Jawab Nakayan sembari berjalan beriringan menuju lapangan bola voli.

“Ahh.. syukurlah, kakiku aman...”

Tawa terurai diantara aku dan Nakayan.

Beberapa saat kemudian aku dan beberapa remaja lainnya yang notabene adalah teman sekolah Yuto sudah berbaur dengan tanpa rasa canggung. Masing-masing tim yang seharusnya berjumlah 6 orang itu dimainkan hanya 4 orang per tim, karena memang masih kekurangan pemain. Aku dan Nakayan dalam satu tim, dan ia bertindak sebagai spiker dan aku pada tosser yang bertugas sebagai pengumpan bola yang nantinya akan di eksekusi oleh Yuto dan dua rekan lainnya menuju ke area tim lawan.

Aku senang sekali, permainan ini sangat menyenangkan. Keringat yang mengalir dan tawa menyenangkan diantara bocah bocah remaja lelaki ini cukup membuat perasaanku lebih baik dan bahagia. Sepertinya cukup bagus untuk menjadi pelarianku saat sedang patah hati seperti ini.. hahaha pikiranku sangat bodoh. Bagaimana mungkin permainan yang menyenangkan ini kujadikan pelarian saja. Ini terlalu bagus.

Selang beberapa waktu kemudian sesosok gadis yang familiar datang, dia langsung duduk di bangku penonton dan hanya menyaksikan permainan kami dari sana. Sesekali dia bersorak ketika masing-masing dari tim kami melakukan penyelamatan agar bola voli tidak menyentuh tanah di area pertahanan. Yap aku memang merasakan pertandingan ini menyenangkan walaupun beberapa kali umpanku meleset dan kurang sempurna saat spiker mengeksekusi bola. Tapi Nakayan selalu menyemangati dan berkata,

 “Tak apa-apa, kau pasti bisa kakak. Semangat !”

Aku hanya mengangguk dan mengucapkan terimakasih dan berjanji padanya untuk lebih berusaha lagi dalam mengumpan bola. Aku sudah lama sekali tidak memainkan bola ini jadi jangan salahkan aku jika aku kurang menguasai dalam permainan saat ini.

Dan ketika pertandingan berakhir dimenangkan oleh timku dan Nakayan, tepuk tangan riuh muncul dari bangku penonton. Gadis itu, ahh aku seperti pernah mengenalnya. Tapi siapa? Dimana? Kemudian gadis itu bangkit dari bangkunya dan menghampiriku yang masih berdiri di tengah lapangan tepat di bawah jaring net.

“Aku baru tahu kau sangat hebat dalam bermain bola voli Nina...” Puji gadis itu tulus, sangat terlihat dari sorot matanya.

“Terimakasih sekali, tapi... maaf sepertinya aku pernah melihatmu, tapi aku tak ingat persis...?”

“Ohh.. iya hahahaha, kau mungkin memang tidak mengenalmu. Tapi kau cukup dikenal di seluruh kampus. Kenalkan.. namaku Nanako.” Uluran tangan dari Nanako langsung kusambut dan tangan kami berjabat dengan akrab.

“Ohh pantas saja.. aku seperti pernah melihatmu...”

“Tapi aku tidak terkenal seperti kau, hahahahaha” Tawa renyah keluar lagi dari bibirnya.
Mau tak mau aku juga ikut tertawa bersamanya, ia sepertinya gadis yang mudah akrab dengan seseorang yang baru dikenal. Sesaat kemudian dia seperti teringat sesuatu,

“Oh iya.. kau sudah mengenal Nakayan? “

“Nakayan? Maksudmu dia...?” Aku menunjuk dengan tanganku pada lelaki tinggi itu.

 “Dia adalah adik kandungku...” 

“Ohh...Tentu, aku sudah mengenalnya. Ia yang pertama kali mengajakku bermain disini..”

“Wah senangnyaaaa Nakayan memang hebat jika mencari bakat seseorang...”

Yang dipuji hanya tersipu malu-malu sambil mengusap belakang lehernya ketika aku dan Nanako sama-sama memandangnya.

“Ah itu bukan apa-apa...”

“Oh iya, jangan lupakan mereka.. mereka adalah teman-teman Nakayan satu sekolah. Mereka selalu berlatih disini setiap sore hari...”

“Ah iya.. aku belum mengenal semua...”

“Baiklah, sambil beristirahat... akan kuperkenalkan kau pada mereka semua...”

“Ayoo.. siapa takut...” Ujarku dan menggandeng lengan Nanako.

Satu persatu aku berkenalan dengan mereka di sela waktu istirahat setelah melewati pertandingan kecil yang cukup melelahkan. Aku cukup senang mengenal mereka semua, terutama Nanako yang belakangan kuketahui ternyata ia memang seorang atlet voli yang sering sibuk latihan sehingga aku jarang melihatnya di kampus.

Setelah itu para remaja lelaki itu melanjutkan kembali pertandingan mereka dengan formasi 3 lawan 4. Sementara aku dan Nanako terlibat dalam perbincangan yang hangat dan menjurus ke arah pembicaraan yang serius. Hingga suasana sudah hampir gelap, remaja lelaki itu masing-masing membubarkan diri untuk pulang kerumah masing-masing. Hingga menyisakan antara aku dan Nanako saja di lapangan voli yang memiliki bangku bertingkat 4.

Nanako mengajakku masuk ke tim Voli di kampus yang kami menimba ilmu disana. Aku ragu dengan tawaran itu, mengingat ini sudah bukan waktunya untukku berlatih untuk mengolah otot dan tenagaku di bidang olahraga ini. Tapi melihat Nanako yang begitu bersemangat aku jadi tak tega untuk menolak, akhirnya kuiyakan keinginannya.

“Baiklah aku setuju, tapi berjanjilah padaku tak ada ‘bullying’ untuk anak baru. Hahaha..” Aku hanya menggodanya saat mengatakan ini.

“Aaaaah terimakasih Nina, I promise I’ll treat you best...” Terlihat raut wajah bahagia di wajah Nanako.

“Jadi, kapan aku akan ikut latihan denganmu?”

“Oh untuk masalah itu akan kukabari lagi kau nanti. Yang penting aku sudah punya nomor telepon dan alamat emailmu.” 

“Baiklah.. akan kutunggu kabar selanjutnya ya...”

“Pasti Nina... ah aku sangat berterimakasih padamu. Semoga dengan adanya dirimu, akan membawa semangat dalam tim kita nantinya...”

“Semoga saja... Ah ayo kita pulang, sudah gelap.”

“Ayo.. akan kuantar kau pulang dengan sepedaku...”

“Oke.. Let’s Go....”

Buncah tawa senang milikku dan Nanako memenuhi langit oranye sore yang sudah menghitam di ufuk timur.. Aku serasa menjadi orang yang baru... lebih baru dari tadi pagi. Dan semoga seterusnya akan seperti ini...

"Oh iya, aku tadi memakai sepatumu... akan kukembalikan jika sudah sampai apertemenku..."

"Tak apa.. kau pakai saja untuk dirimu dulu. Aku masih punya sepatu banyak dirumah..."

"Ahhh terimakasihhhhh...."

To Be Continued

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Wohooo gw balik lagi baca chapter III, semoga ga boring ya baca-baca cerita gw.
Biarpun ceritanya kadang suka aneh-aneh dan gajelas. hehehehe

Oke, setelah chapter III publish gw mau bobok dulu yak. Udah mayan juga nih badan.
Yuuk byeee....
.
.
Selamat Malam...
.
.
.
Terimakasih Sudah Berkunjung
.
.
.
Kapan-kapan Main Lagi yaa...
.
.
.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Feel free to comment... silahkan....