Jumat, 28 Februari 2014

Fanfiction One Ok Rock ; A Pathetic Girl with a Stubborn Boy Chapter VII





A Pathetic Girl with a Stubborn Boy Chapter VII

Author             : Parasarimbi

Genre              : Romantic

Length             : Chapter by Chapter (belum ada rencana sampai chapter berapa)

Cast                 : Manami as Donna

                          Taka

                          Toru

                          Ryota

                          Tomoya

Disclaimer : Cerita punya saya, tapi tokoh bukan punya saya. Fanfiction One Ok Rock ini dibuat hanya untuk koleksi dan kesenangan semata.



~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Author Pov

Tiga orang pria terlihat duduk di sebuah lapangan yang luas, sebelumnya mereka mengambil posisi duduk yang berjauhan hingga akhirnya mereka bangkit dan duduk saling berdekatan. 
Suasana mulai tenang dibanding saat mereka bertengkar sangat panas beberapa waktu yang lalu. Ketiganya mulai bisa berbiara dengan kepala dingin. Tanpa emosi.

“Benarkah semua yang kau katakan itu Ryota? Sesuram itu kah masa lalu Donna?” 

Toru menatap Ryota tak percaya.

“Bertanyalah pada Taka, ia mengetahui semua yang dialami Manami semasa sekolah.” 

Ryota menjawab dengan berkali-kali mengusap pipinya yang sekarang terlihat lebam. Tomoya hanya diam mendengarkan sambil sesekali mencabuti rumput yang tumbuh liar.

“Manami...?” 

“Itu nama sebelum dia mengubah namanya menjadi Donna dan tak tahu bagaimana prosesnya.”

Toru bergumam pelan. Pikirannya diterpa bingung yang luar biasa.

“Donna.... Manami..., bagaimana bisa? Aku tak mengerti.”

“Awalnya aku juga tak mengerti. Namun akan kuceritakan sedikit yang kuketahui.” Ujar Ryota

Toru hanya termangu, mulutnya tak berkata lagi sepatah kata pun.

“Menurut penuturan Taka padaku, Manami dulu tak seperti ini. Ia gadis yang baik, selalu ramah pada siapapun dan peduli. Sangat berbeda 180 derajat dengan sifatnya yang sekarang.”

“Entah pertemuan waktu itu suatu kebetulan atau takdir, mereka akhirnya bertemu tatap muka saat kau tak ikut dengan kami di kafe waktu itu.”

“Kafe?”

“Ya... di kafe. Kau sedang ada urusan saat itu. Jadi hanya ada aku, Tomoya dan Taka.”

“Taka terlihat terkejut saat itu, ia sendiri hampir tidak mengenali Manami karena sangat berbeda dengan yang ia lihat terakhir bertahun-tahun yang lalu.”

Ryota menghela napas.


“Setelah Manami pulang, Taka baru menyadari bahwa Donna yang baru berkenalan dengannya memang Manami yang ia cari selama ini. Ia berusaha mencari-cari informasi mengenai Manami padaku. Awalnya aku menolak memberitahunya mengingat Taka dan kita baru sebentar berteman.”


Hening. Ryota melanjutkan lagi.

“Tapi karena begitu keras kepalanya Taka yang tak pernah menyerah agar aku bisa membantunya mengorek informasi tentang Manami dan ia berhasil meyakinkanku bahwa ia memang benar-benar mengenal dan tahu tentang masa lalu Manami, akhirnya aku luluh.”

Toru menyulut rokoknya sebatang. Kemudian menghisapnya dalam-dalam dan mengeluarkan asapnya pelan menyimak penjelasan panjang dari Ryota. Tomoya hanya diam di tempat sembari memainkan kukunya seakan merenung menghayati tiap cerita yang keluar dari bibir Ryota.

“Aku tahu kau sangat menyukai Manami, dan kupikir Taka juga menyukai Manami tapi maafkan aku jika aku berbuat seperti ini. Ini demi kebaikan Manami, ia tak bisa terus-terusan menutup dirinya seperti ini.” Ryota memejamkan matanya seolah merasakan apa yang Manami rasakan.

“Tiap hari aku duduk berdekatan dengannya, sedikit-sedikit aku bisa melihat penderitaan di wajahnya. Entah naluriku yang mengatakan bahwa ia pernah melalui masa-masa sulit dan ia lewati sendirian.”

Tomoya menyahut.

“ Aku masih saja tak menyangka gadis secantik itu hidupnya begitu tragis.” Sahut Tomoya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum miris.”

“Ya, tak ada yang menyangka, tapi aku salut padanya. Ia gadis yang tegar meskipun sifatnya saat ini sangat buruk.”

Ryota menoleh pada Tomoya dan disambut oleh senyum Tomoya.

“Mungkin ini memang saatnya Manami menyambut kebahagiaannya. Ia tak boleh terus-terusan seperti ini. Ia memang terlihat tegar tapi aku melihat kerapuhan dalam dirinya. Ia butuh sandaran.

Tomoya menyahut.

“Taka lelaki yang baik, ia sangat peduli pada Manami walaupun ia sangat keras kepala. Jika dia tak peduli pada Manami tak mungkin selama ini ia mencari-cari keberadaan Manami.”

Toru menyela.

“Kalian terus-terusan membicarakan tentang Donn... eeerr Manami dan Taka, entah kenapa hatiku terluka mendengarnya.”

Ryota menepuk bahu Toru,

“Kau juga orang yang baik Toru, kau juga peduli pada Manami walaupun ia sama sekali tak membuka hatinya untukmu. Biarkan saja ia mengetahui realita tentang hidupnya dahulu.”

“Benar apa yang dikatakan Ryota, waktu akan terus berjalan. Mungkin suatu saat ada keajaiban dalam hatinya yang membuatnya bisa melihat kearahmu.” Sahut Tomoya.

“Lebih baik kita menunggu dan melihat apa yang akan terjadi selanjutnya. Tenangkan dirimu, turunkan egomu.” Ryota meninju pelan lengan Toru.

“Aku tak yakin akan itu. Baru kali ini aku merasakan rasa cemburu yang membuatku tak bisa berpikir dengan baik. Seakan-akan aku belum rela jika Manami dekat dengan lelaki lain selain kita bertiga.”

Ryota mengangkat alis,

“Kita? Kenapa tak kau sebut dirimu saja sendiri? Aku sangat rela jika ia berdekatan dengan laki-laki lain selain kita, hahahahahaha....” Ryota tertawa terbahak-bahak.

Mau tak mau Tomoya dan Toru juga ikut tertawa. Segala ketegangan sore itu cair. Suasana menjadi hangat kembali seperti sedia kala.

“Hey hey.. dengarkan aku... Aku akan membuat suatu pengakuan. Dulu aku sempat jatuh cinta pada Manami saat pertama kali mengenalnya.” Kata Tomoya dengan wajah tak berdosa.

“Apaaaaa???” Jawab Toru dan Ryota serempak

“Hahahahaha.... Kenapa kalian terkejut? Tapi itu sudah lama, aku sudah tak lagi jatuh cinta pada Manami.. hahahahahahahahahaha.”

Toru dan Ryota hanya bisa mengeluarkan sebuah cengiran di wajahnya.

“Kau pikir kau lucu?”

Dan akhirnya Toru dan Ryota bergantian saling memukuli kepala Tomoya dengan tawa kerasa seolah melupakan kejadian bahwa mereka sempat bertengkar hebat baru saja. Semuanya kembali seperti sedia kala. Persahabatan mereka benar-benar menyenangkan.

Namun masih ada perasaan yang mengganjal di hati Toru, Ia masih sangat khawatir dan tak tenang mengingkat gadis pujaannya kini sedang bersama seorang laki-laki yang baru dikenalnya tak lebih dari sebulan dan seorang vokalis yang bergabung di bandnya.

"Ah ngomong-ngomong dimana Donn.. ahhh Manami dan Taka sekarang?"

Ryota dan Tomoya hanya beradu pandang dan hanya mengangkat bahu.


Author POV end.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

 .
 .
 .
 .
“Aku.... “

Taka memutus ucapannya.

“Tak penting siapa aku, yang penting informasi ini sudah kusampaikan padamu.” Jawab Taka dengan posisi masih memelukku.

“Kenapa tak penting?”

“Karena memang tak perlu...”

“Begitukah?”

“Hmmm”

“Kau tak mau mengungkap jati dirimu?

“Untuk apa?”

“Untuk mengetahui siapa kau sebenarnya”

“Sudah kubilang itu tak penting, aku hanyalah orang yang peduli padamu”

“Hanya peduli?”

“...........”

“Lepaskan pelukanmu, aku ingin pulang!”

“Kau mau pulang? Berjalan kaki? Silahkan saja.”

Dengan gusar aku mencoba melepaskan pelukan Taka, temperamennya membingungkan. Beberapa waktu yang lalu dia sangat menakutkan dengan amarahnya yang membara, kemudian dia bersikap sangat manis sekali dan sekarang dia bersikap sangat menyebalkan.

“Jadi begitu...? Lepas...! Aku pulang...” Aku meronta.

Taka masih tak bergeming. Dia masih memelukku kuat.

“Lepas... !!!”

“Tidak akan!”

“Kau ini menyebalkan ! Kubilang lepaskan...!!!”

“Tolong  jangan memintaku untuk melepas pelukan ini Manami, biarkan aku memelukmu untuk beberapa saat.”

Ahh... kata-kata ini benar-benar...

Aku terdiam

“ Aku akan mengatakan siapa diriku, tapi tidak saat ini....”  Taka semakin mengeratkan pelukannya.

“Aku bukanlah siapa-siapa. Aku hanya seorang yang benar-benar peduli dan mengkhawatirkanmu. Kau adalah gadis yang sangat baik Manami. Aku ingin melindungimu.”

Aku menelan ludahku.

“Kenapa?? Kenapa kau sangat peduli padaku?”
.
.
.
.
 “Karena aku adalah lelaki yang paling menginginkanmu melebihi lelaki lain di dunia ini Manami.... Semoga kau paham akan hal itu”

Hatiku serasa disiram air es mendengar ucapannya baru saja. Untaian kata dari bibir Taka yang berupa pengakuan ini membuat hatiku merasa aneh.

“Kau tahu, seharusnya kau tak berkata seperti itu, Aku... aku bukanlah gadis yang baik, itu sebabnya satu persatu kebahagianku hilang.”

“Manami.... aku berjanji akan mengembalikan kebahagiaanmu...”
Taka membisikkan kata-kata itu tepat ditelingaku.

.................................................

Aku terdiam, bergetar hatiku mendengarnya. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan setelahnya, karena aku masih saja terpaku di pelukannya. Taka tak memberikanku ruang untuk melepaskan pelukannya seakan aku ini adalah boneka kesayangan yang tak boleh dipinjam siapapun.

“Kau tidak menanyakan kabar ayahmu?” Taka mencoba memecah kesunyian.

“Eh.. Ayah? Apakah Ayah sehat? Aku lupa menanyakannya,”

Taka tertawa kecil 

“Ayahmu sedang sakit Manami, di rumah sakit. Apakah kau tak keberatan menjenguknya di rumah sakit?”

“Ayah sakit??? Katakan padaku Ayah sakit apa?”

“Ayahmu sebenarnya tidak sakit, kondisi fisiknya sehat. Namun jiwanya yang kurang sehat”

“Apakah yang kau maksud Ayahku menjadi gila?” Air mataku mulai mengalir lagi dan terisak lagi.

“Tidak.. tidak bukan itu maksudku...”

“Lantas?”

“Setiap saat dan setiap waktu yang dikerjakan Ayahmu adalah melamun, tatapan matanya kosong tak pernah merespon pada siapapun yang mencoba mengajaknya berbicara seakan jiwanya berada entah kemana.” 

“Saat malam, Ayahmu suka mengigau tentang Ibumu dan memanggil-manggil namamu dan mengatakan jika Ayahmu sangat mencintai kalian. Berulang kali ia selalu mengatakan maaf dalam lamunannya.”

“Separah itukah sakitnya Ayahku?”

“Hmmh...” Taka hanya mendehem.

“Sudah lima tahun Ayahmu sakit seperti ini, tepatnya setahun kepergianmu.”

“Ayahmu ingin menebus kesalahannya dengan menginginkan untuk menghabiskan waktunya di jeruji besi. Tapi pihak pengadilan menolaknya karena vonis yang dijatuhkan untuk Ayahmu adalah tidak bersalah.”

“Ayahku memang tidak bersalah, tapi hidup Ayah sekarang sangat menderita. Ayah maafkan aku...”

Taka tak mengatakan apapun.

“Apakah kau tak keberatan untuk mengantarku kemana Ayahku berada?”

Taka melepas pelukanku dengan masih memegang bahuku.
“As your wish... Aku menunggu kata-kata ini” Taka tersenyum sambil menatap kedua bola mataku.

“Terimakasih, kau benar-benar sangat baik Taka. Kau sangat baik. Terimakasih.” Kata-kata ini benar-benar tulus saat kuucapkan. Tak pernah setulus ini aku mengucapkan terimakasih sejak aku pindah dari kota dimana aku lahir dan tumbuh remaja.

Taka tak menjawab, ia berjalan dan menggandeng tanganku untuk diantarnya ke mobil di kursi penumpang depan berdampingan di kursi kemudi. Seperti robot aku hanya patuh saat Taka membuka pintu dan menyuruhku duduk manis dan memasangkan seatbealt untukku. Setelah selesai memasang, setengah berlari Taka menuju kursi kemudi dan memasang seatbealt untuk dirinya sendiri. Setelah selesai, ia berkata lagi...

“Perjalanan menuju rumah sakit tak mungkin ditempuh dalam semalam, dan keadaan tak memungkinkan jika kita tidur di mobil. Kau tak keberatan jika nanti kita bermalam di sebuah losmen?”

Taka lelaki yang baik, ia bahkan meminta pendapatku sebelum memutuskan suatu rencana.

“Terserah kau saja..” Aku hanya menjawab singkat

“Baiklah, kuanggap setuju,” 

Taka menstater mobil, dan memacu mobil dengan kecepatan sedang. Tak ada pembicaraan lagi diantara kami berdua. Taka fokus dengan setirnya, sementara aku hanya melihat pemandangan dari pintu mobil samping kananku. Hingga tak terasa aku tertidur dan terbangun dengan kondisi yang sudah gelap dan sudah tengah malam.

“Kau sudah bangun?”

Aku menggeliat dan Ah... aku baru menyadari bahwa aku masih bersama Taka.

“Tidurmu sangat pulas sekali”

“Benarkah?”

“Aku tak bohong.” Taka berkata sambil tersenyum, “Manami, malam sudah larut sepertinya aku sudah lelah menyetir mobil. Aku ingin mengistirahatkan badanku, kebetulan beberapa meter lagi ada losmen.”

“Silahkan...” Jawabku singkat.

Tanpa banyak kata lagi Taka mengemudikan mobil hingga sampai di depan losmen yang bercat putih dan lumayan bagus. Setelah memarkirkan mobil, aku dan Taka turun dari mobil kemudian berjalan menuju resepsionis untuk memesan dua kamar. Namun ternyata hanya tinggal satu kamar dengan satu tempat tidur saja. Karena tidak ada pilihan lain lagi akhirnya aku dan Taka menyetujuinya, karena sudah cukup lelah untuk mencari losmen dengan 2 kamar kosong.

Sesampainya di kamar yang sudah dipesan, aku melihat kamar ini berisi satu tempat tidur, satu sofa dan kamar mandi dalam satu ruangan. Hanya ada satu sekat yaitu kamar mandi. Aku termangu memandangi kamar ini, bingung untuk memilih aku akan tidur dimana. Di ranjang kah? Di sofa kah? Satu ruangan dengan laki-laki apakah tidak berbahaya untukku.
Belum habis aku berpikir tiba-tiba Taka berujar,

“Aku yang akan tidur di sofa, kau di tempat tidur. Tak perlu khawatir padaku, aku tak akan macam-macam.”

Aku hanya menurut dan langsung menuju tempat tidur, sementara Taka menuju kamar mandi dan terdengar suara shower menyala. Taka sedang mandi dan tak berapa lama Taka sudah selesai mandi dengan pakaian yang sama dan ia pamit untuk keluar  kamar sebentar. Aku mengiyakan, aku tak terlalu ingin tahu Taka akan pergi kemana.

Selang beberapa menit kemudian Taka sudah kembali lagi sambil membawa sesuatu ditangannya. Ternyata ia membawa makanan. Taka membangunkanku yang sebenarnya belum tertidur, mengajak makan bersama. Aku baru ingat sedari tadi siang aku belum makan, dan kurasakan perutku agak perih karenanya.

“Manami bangunlah sebentar. Kita makan bersama, daritadi siang kau pasti belum memakan apapun.”

Aku langsung bangkit

“Aku belum tidur,”

“Maaf karena terlambat membeli makan,”

“Tak apa, bukan salahmu.”

Taka memberikanku salah satu kotak syrofoam yang isinya adalah mie ramen hangat. Aku menerimanya dan membuka kotak mie ramen pelan-pelan, sementara kulihat Taka sudah lahap menikmati ramennya. Sepertinya Taka benar-benar sangat lapar. 

Aku dan Taka makan dalam keheningan, tak ada aktifitas apapun apalagi mengobrol. Tapi sesekali kami saling mencuri pandang. Saat mata kami bertemu aku merasakan hawa lain, entah hawa apa itu.

Selesai makan Taka langsung menuju sofa untuk mengistirahatkan badannya dan aku menuju tempat tidur yang akan kutempati. Tak ada bantal dan selimut disofa. Tiba-tiba rasa kepedulianku muncul, aku merasa tak tega jika Taka tidur di sofa tanpa bantal dan selimut. Sedangkan di tempat tidur ini hanya ada satu bantal dan satu selimut.

Hening selama beberapa menit. Kuberanikan diri untuk memanggil Taka

“Ta.. Taka..”

“Hmmm...?” Sahut Taka sambil terpejam.

“Kau sudah pulas?”

“Hmmm, aku tak bisa tidur Manami.”

“Kau kedinginan?”

“Tidak juga, tapi rasanya mataku tak mau terpejam. Sudahlah tak perlu pikirkan aku, cepatlah  kau tidur, kau perlu istirahat.”

“Aku juga tak bisa tidur,”

“Ada apa? Kau butuh sesuatu?” Taka bangkit dari sofa dan menuju ke tempat tidurku.

“............” Aku membisu, bingung memikirkan kata-kata yang tepat.

“Manami, kenapa melamun? Jika kau butuh sesuatu katakan padaku.”

“Tidak, aku hanya khawatir kau tidur di sofa tanpa selimut. Bisa-bisa nanti kau sakit.”
Taka tersenyum simpul.

“Trimakasih kau sudah mengkhawatirkanku, aku merasa bahagia kau perhatian padaku. Aku tidak apa-apa Manami, yang penting kau yang tidak kedinginan.”
 
“Bagaimana kalau kau memakai selimut ini...?”

Taka menyela,

“Manami....  sudahlah pakailah sendiri selimut itu. Aku akan baik-baik saja, kemeja yang kupakai ini akan kujadikan selimut. Oke.”

“Bagaimana kalau kita berbagi selimut disini...??? Kata-kata itu meluncur dari mulutku tiba-tiba...
.
.
.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Nahhhh, akhirnya kelar juga chapter 7 kan. Udah diuber-uber beberapa reader yang nagih lanjutan efef ini. Hahahaha
Idenya sih udah ada beberapa hari yang lalu, cuman penyakit lama kambuh. Penyakit Malas.
Males ngetik. Hahaha. 

Dua hari ini saya juga lagi ga enak badan, badan agak anget gitu. Keseringan begadang kali ya jadi sering masuk angin gini. Moga2 saya cepet sembuh biar chapter 8 nya cepet keluar.

Nah karena yang ditagih udah ada boleh dong kalo saya nagih komennya dari kalian? Hahahaha.
Ini buat kalian ya yang udah ga sabar baca efef ini, ada Herlina nanyain, ada Vaachan nanyain juga, yang lainnya saya lupa. Kalo namanya belum kesebut boleh kok komen dibawah.

Oh iya jadi kangen sama Cheza, beberapa hari ini ga pernah nongol, hp rusak katanya. Semoga hapenya Cheza cepet sembuh juga. Hahaha

Akhir kata, saya pengen istirahat dulu karena besok masih kerja. Biar badan fit kembali.
Terimakasih atas perhatiannya sama blog  dan One Ok Rock fanfiction ini.
.
.
Selamat Malam
.
.
Kapan-kapan Main Lagi ya...
.
.

21 komentar:

  1. Haha, makasiiih mbaa widi yang baik hati, hehehe..
    Maaf ya mbaa, maaf banget udah nagih2 dari kemaren,maapin adekmu ini mbaa :D

    Syafakillah ya mbaa, moga cempet sembuh :)
    Mbaa gak bilang sih kalo mbaa lagi sakit, kan aku maksa nya dikit ajah (tetep ajah maksa) :D
    Makasih yah mba, pake banget banget :D
    FF nya memang jadinya jumat, gak sia-sia kemaren malem tapa dibawah poon toge.

    Chu~ *bow kiss mbaa widi dari bandung* hahaha

    BalasHapus
  2. Blow kiss maksudnya, haha, typo :D

    BalasHapus
  3. Hahahaha, terimakasih kembali.
    ada untungnya sih kalo dipaksa. kalo ga dipaksa segera dibikin lanjutannya jadi males ngetik tar jadinya ditagih terus. wkwkwkwk
    wkwkwkwk, tapa di pohon toge.... ga sekalian ngepet aja va? wkwkwkwkwk

    Gimana komentar tentang efefnya?

    ~chuw dari solo

    BalasHapus
  4. Nyari inspirasinya sampe ke warung soto ya mbaa, haha :D

    Iya, kemaren juga bawa lilin juga mbaa, ceritanya mau ngepet hatinya bang Taka (lah emang bisa?)
    Tapi gak jadi, lupa bawa korek soalnya =D

    Aku lemes nih mbaa baca nya, serius. Haha.
    Berasa beneran aku nya yg dipeluk gituh :D haha..

    Kalo bahasanya seperti biasa, mudah dimengerti. Tapi tadi sempet bingung juga yang pas percakapan antara bang toru, ryota sama tomoya nya mbaa. Aku nya lagi ngantuk kalii yah :D haha, jadi gak konek konek gituh, hihi..

    BalasHapus
  5. Hahahahaha iya, sampe warung soto. habis itu udahan deh ide muncul trus posting.

    wakakakakakka, apa kata lo dah.. hahaha

    wuidihhh sampe kebawa sampe perasaan nih anak,
    bangun va bangung. hahaha

    Gatau tuh bahasanya mereka bisa kek gitu, bingungnya pas bagian mana kira2?

    BalasHapus
  6. Yossshhh, dan selesai lah kebingunganku.. udah ngerti sekarang mah :D hoho, udah dua kali sih bacanya, lol.

    Gak bagi-bagi si mba mah soto nya, haha.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaaa...... udah paham ternyata.

      Wah warung sotonya udah tutup tuh, gimana kalo kamu ikut juragan sotonya aja sapa tau masih ada soto semangkok? wkwkwkwkwkwk

      Hapus
  7. Emang siapa yg dagang soto mbaa? Bang taka? :D haha.
    Keren banget daah tukang soto sekuuull bang taka (ngomong haahaapasssiiih aku).

    Oiya mbaa, itu si bang taka-nya teh vokalist dari band mereka, atau temen mereka yg baru kenal beberapa bulan? Aku bingung lagih nih ==

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahahaha, kalo yang dagang soto si mastaka sih tiap hari mau dah beli soto di warung dia. wkwkwkwkwk

      Iya Taka, yang jadi vokalis mereka tapi kan mereka temenannya baru sebentar. Karna gabungnya juga baru aja. gitchu.....

      Hapus
    2. Wkwkwkwkwk, tau ajah nggak soto apah :D
      Paling nasi goreng jualannya :D

      Ogitchu mbaa, okeh okeh. Haha..
      Katanya cuma dikit ajah mbaa, tapi nyatanya panjang mbaa :D
      Bagus mba, bagus :D

      Hapus
    3. Hahahahaha, alih profesi dia, dari pedagang soto jadi jualan nasi goreng keliling? hehehehe


      Oh panjang ya? yaudah chapter 8 pendek aja yak? wkwkwkwkwkwkwk
      :ngakakgulingguling

      Hapus
  8. Wkwkwkwkwk, jadi tukang ramen ajah deh di Bandung, biar banyak pelanggannya :D

    Eh jangan-jangan ih, panjangin ajah yah :D hahahahaha..
    Iiiihh, panjang yah panjang :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haghaghaghag yaudah deh apa kata lo aja dah... wkwkwkwk

      panjangin apa pendekin yaaaaa....
      hahahaha
      wait and see ya...

      Hapus
    2. Panjangin ajah mbaa, dan postingnya sekarang ajah :D hahaha.
      Yah yah ??? ckckckc..

      Hapus
    3. Wah kalo diposting sekarang keknya ga bisa tuh, soalnya penyakit udah kambuh.
      Penyakit males. hahahaha

      mungkin paling telat seminggu lagi. wkwkwk

      Hapus
  9. Aiiisshhhh, goood joobbb mbaa :D hahahaha.
    Sugeee sugeee :D kkkk~ (padahal dalam ati ngenes)
    Yasudah mbaa,bulan depan ajah postingnya, tapi harus sampai tamat mbaa.
    Kalo perlu yg tadinya buat 9 chapter, disatu postingkan :D hahahaha.

    BalasHapus
    Balasan
    1. wahahahahahaha.....

      cuman bisa ketawa.

      hahahahahahaha

      Kita liat aja nanti yaaa... hahahahahaha

      Hapus
  10. Awas yah mbaa kalo terjadi sesuatu sma mastaka, nanti mas toru aku culik :D gkgkgkgk..

    BalasHapus
    Balasan
    1. haahahhaahhaahhaahaha LOLOLOLOLOLOLOL

      Hapus
  11. Hai, author.
    Aku suka ceritamu. :D

    Keep writing. Dan ditunggu lanjutannya. ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai Anonimous...
      sayangnya ga nyertain nama sih jadi ga bisa nyapa nama deh.

      Wah terimakasih kalo suka sama cerita saya. Ditunggu kedatangannya kembali... :D

      Hapus

Feel free to comment... silahkan....