Minggu, 26 Januari 2014

Fanfiction / Fanfic One Ok Rock ; A Pathetic Girl with a Stubborn Boy Chapter V





A Pathetic Girl with a Stubborn Boy Chapter V

Author             :Parasarimbi

Genre              : Romantic

Length             : Chapter by Chapter (belum ada rencana sampai chapter berapa)

Cast                 : Manami Oku as Donna
                         Taka
                        Toru
                        Ryota
                        Tomoya

Disclaimer : Cerita punya saya, tapi tokoh bukan punya saya.


Enjoy!

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Author POV

Di tempat lain

“Buaaaaaghhhh....!!!” 

Seorang lelaki tegap berambut pirang melancarkan pukulan ke rahang seorang lelaki berambut gondrong dan berjanggut hingga tersungkur. Sedangkan seorang lelaki gondrong yang lain tengah mencoba menahan lelaki pirang yang masih bernafsu untuk kembali memukul lelaki yang sudah diberinya satu pukulan itu. Ia seakan belum puas untuk menyalurkan amarahnya.

Dengan sumpah serapah ia berteriak pada lelaki yang sedang mengelus pipinya menahan ngilu akibat pukulan telak di rahangnya. 

“Teman macam apa kau Haaa!!!”

Sambil menggerak-gerakkan pipinya berulang kali, lelaki itu memandang lelaki yang sudah menghajarnya itu dengan sengit.

Pria gondrong lainnya menguras tenaga akibat menahan tubuh lelaki berambut pirang itu untuk maju kedepan, Ia berada di belakang tubuh dan seakan mengunci kedua tangan lelaki berambut pirang untuk tidak melanjutkan aksinya kembali. Pria berambut pirang itu meronta-ronta sekuat tenaga ingin melepaskan diri dari cengkraman lelaki yang menahan tubuhnya. 

Disela rontanya, ia berteriak lantang,

“Kau yang paling tahu jika aku sudah mengincar gadis itu sejak lama, tapi kau dibelakangku...!!!” 

“KATAKAN!!! KELUARKAN SEMUA AGAR KAU PUAS!!!” Sambung lelaki dengan emosi yang tak kalah kuat dari lelaki berambut pirang yang tadi memukulinya.

Kemudian lelaki berambut gondrong yang tadinya terduduk itu bangkit berdiri dan hendak membalas pukulan yang mendarat di rahangnya. Namun aksi itu digagalkan oleh penengah mereka berdua, yaitu laki-laki yang masih memegang erat laju tubuh lelaki berambut pirang gitu.

“Hey.. heyy... sudah hentikan !!! Hentikannnnnnn!!!” 

Lelaki yang menjadi penengah itu akhirnya berteriak keras karena sudah tidak tahan dengan pertengkaran yang dilakukan oleh pria berambut pirang dan berambut gondrong serta berjanggut itu. Kedua lelaki yang terlibat perkelahian itu akhirnya menghentikan aksi mereka setelah dihentikan walaupun keduanya masih sama-sama dikuasai oleh emosi. 

“Kalian sudah sama-sama dewasa. Bisakah menyelesaikan masalah tanpa emosi? Atau kalian memang belum dewasa???” Tanya Si lelaki penengah sarat ketegasan.

Keduanya tak menjawab dan hanya terdengar suara napas yang tersengal-sengal.

“Duduklah kalian, kita bicarakan tanpa perlu menggunakan kekerasan!!” Tomoya mengajak keduanya untuk duduk di tanah yang lapang. Keduanya langsung menurut untuk duduk walaupun mengambil posisi saling berjauhan.

Lelaki berambut pirang itu adalah Toru yang kini tengah diliputi rasa emosi jiwa yang membuatnya tak bisa berpikir dengan baik hingga memukul sahabat karibnya yaitu Ryota. Dan seseorang yang mencoba menjadi penengah diantara perkelahian mereka adalah Tomoya. Mereka terlibat perkelahian yang sebelumnya tak pernah terjadi dan baru pertama kali dialami oleh mereka. Persahabatan mereka kali ini sedang diguncang sebuah permasalahan yang cukup pelik. 

Dengan penuh kewibawaan dan ketegasan, Tomoya mencoba menjelaskan duduk permasalahannya....

Author POV end

~~~~~~
“Kau seakan tak terlacak, dan tak ada yang mengetahui bagaimana keadaan terakhirmu sejak kejadian itu” Ujar Taka memejamkan matanya sembari mengacak rambutnya pelan.

Memori yang tiba-tiba menguar itu membuat kesedihan masa laluku tiba-tiba kembali. Membuat airmataku yang tak pernah kubuang sia-sia lagi sejak 6 tahun lalu membasahi pipiku. Aku merasa kenangan itu tidak seharusnya muncul, susah payah aku menyingkirkan masalalu yang kelam itu.

Aku terisak pelan, menyembunyikan tangisku.

Taka mendengar dan menoleh kearahku.

“Maaf telah membuatmu menangis, aku..aku paling tidak bisa melihat seorang gadis menangis.”

Taka meraih kotak tisu yang ada di dashboard mobil kemudian memberikannya padaku, aku mengambil beberapa lembar tisu untuk menghapus air mataku yang menetes. Setelah meletakkan kembali kotak tisu ke dashboard, Taka duduk lagi dengan mencari posisi ternyaman. Kemudian Taka kembali meneruskan apa yang ia ingin katakan,

“Malam itu pukul 8 malam, aku masih sempat mengunjungimu yang masih belum tersadar dirumah tetanggamu. Kau terlihat menggigil dan berulangkali kau mengigau memanggil ibumu. Ibu..ibu.. Aku ikut denganmu..” 

Dengan pandangan menerawang dan sesekali menunduk Taka menirukan apa yang kukatakan saat aku mengigau. 

“Namun ketika pagi hari aku datang, lingkungan rumahmu gempar karena kau menghilang tanpa meninggalkan pesan dan petunjuk apapun. Polisi pun mencarimu namun tak ada hasil.”
Taka mengambil jeda sejenak untuk bernafas.

“Aku mengikuti pelajaran dengan hati tak tenang, pikiranku melayang dan selalu memikirkanmu, bagaimana  keadaanmu, dimana kau saat itu. Ahh... Aku seakan kehilangan akal sehat.” Taka mendecak kesal, emosi masih terdengar dalam setiap kata-katanya dan ia  mengacak rambutnya yang keriting dengan gusar.

“Sepulang sekolah, aku mencari bajingan itu, kuseret dia dan aku menghajarnya habis-habisan di lapangan dekat bukit sekolah. Kau tahu siapa yang kusebut bajingan? Dia adalah mantan kekasihmu yang tanpa perasaan menjalin hubungan dengan wanita jalang yang dulu kau sebut sahabatmu.” Ujar Taka ketus.

Tangisku sedikit mereda dan aku menyimak kata-kata selanjutnya yang kurasakan menarik ketika menyangkut mantan kekasihku dan mantan sahabatku.

“Dia tak membalas perlakuanku sewaktu kuhajar, dia seakan menerima hukuman akibat perbuatannya. Dan ia tak menanyakan sama sekali apa sebabku menghajarnya. Bajingan itu hanya pasrah. “

Aku meremas ujung bajuku dan hanya terdiam mendengarnya karena aku sudah berjanji untuk mendengarkan Taka bercerita tanpa menginterupsinya satu pun.

“Ahh.. aku malas sekali bercerita banyak tentang bajingan itu. Biar kupersingkat saja, bajingan dan wanita jalang itu akhirnya menikah dan mereka bahagia selamanya seperti dalam dongeng. Selesai.” 

‘sudah kuduga’ batinku pelan.

Bersambung
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Yo yo yo... sudah chapter 5 aja, bakalan jadi brapa chapter ya nanti endingnya. hehehe
Lagi-lagi ngetik ini sambil ngantuk dan saya butuh kopiiiiiiiiiiiiiiiii................
.
.
Adakah yang masih penasaran sama kelanjutan critanya? Gomen ya Cheza kalo misalnya chap 5 kurang seru dibanding chap 4.
.
.
Selamat Malam
.
.
Kapan-kapan Main Lagi yaaa....
.
.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Feel free to comment... silahkan....