Rabu, 22 Januari 2014

Fanfiction / Fanfic One Ok Rock ; A Pathetic Girl with a Stubborn Boy Chapter III





A Pathetic Girl with a Stubborn Boy Chapter III

Author             :Parasarimbi

Genre              : Romantic

Length             : Chapter by Chapter (belum ada rencana sampai chapter berapa)

Cast                 : Donna as Manami
                         Taka
                         Toru
                         Ryota
                         Tomoya

Disclaimer : Cerita punya saya, tapi tokoh bukan punya saya.

Notes : Fanfic ini lanjutan dari

Chapter I
Chapter II
Chapter IV



Enjoy!


 ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Tiga hari sudah sejak kejadian melarikan diri dari kelas kampus itu berlalu. Aku sengaja mengurung diri dan bersembunyi dalam apartemenku, tenggelam dalam kesendirianku yang ditemani bayanganku saja. Aku juga tak mengaktifkan ponselku setelah hari itu. Aku yakin beribu-ribu pesan masuk dan panggilan mencoba menghubungiku dan aku yakin aku tak ingin menghidupkan kembali ponselku hingga situasi sudah cukup nyaman untukku.

Aku memilih untuk menghindari dari semua yang membuat kepalaku terasa berdenyut. Memikirkan mereka saja sudah membuatku gelisah. Ryota dan Tomoya, bagaimana nanti jika aku berhadapan dengan mereka? Akan seperti apakah perlakuan mereka terhadapku nanti? Toru, ah Toru tidak ada urusannya dengan kejadian ini. 

Tapi... tapi bagaimana dengan Taka? 

Hey, aku ini berpikiran apa sih? Aku kan tidak mengenal Taka. Kenapa aku harus khawatir seperti ini? 

Tapi bagaimana jika nanti.... 

Bagaimana kalau Taka.... 

Bagaimana ....

Bagaimana ....

Sejuta pertanyaan dalam pikiran berkecamuk, berkali-kali aku merubah posisiku saat ini yang tengah terbaring di tempat tidurku. Besok adalah hari dimana aku harus menghadap dosenku dan mau tak mau aku harus masuk kampus dan jika aku masuk kampus artinya aku akan bertemu kembali dengan manusia-manusia aneh itu. Ini yang membuatku sangat gelisah tak menentu. 

Tapi yang tetap harus kulakukan adalah seperti biasanya, apatis. Ya hanya itu satu-satunya jalan yang memang harus kuperbuat. Jika aku membolos lagi dalam minggu ini bukanlah ide yang bagus karena aku sudah memiliki janji dengan dosenku untuk memperbaiki salah satu nilaiku.

Aku merubah posisiku lagi dengan tangan yang beberapa kali memijat pelan keningku. Aku harus tidur sekarang, aku tidak mau diliputi rasa gelisah berkepanjangan. 

~~~~~

Pagi hari 10.00

Aku telah berada di sekitar kampus yang terbilang megah ini dengan rindangnya pepohonan besar yang berdiri kokoh di halaman kampus yang luas. Berjalan di jalan setapak beraspal ini serasa menghitung jumlah langkah yang kupijak, agak berat rasanya untuk memasuki area ini, terlebih area kelasku. Tapi untunglah hari ini aku hanya akan masuk ke ruang dosen bukan di kelas, meski begitu aku tetap waspada jika nantinya aku berpapasan dengan orang-orang yang tidak ingin kutemui.

Tiba-tiba ada suara berat seorang lelaki yang menghentikan langkahku sebelum aku menuju bangunan khusus ruang dosen, jantungku serasa ingin lepas.

“Donna? Kaukah itu?”

Aku mematung di tempat.

Langkah laki-laki itu mendekat kearahku, aku bisa melihatnya dari ekor mataku. Kemudian Toru berdiri berhadapan denganku, dengan senyum yang terukir di bibirnya dan terlihat kerinduan yang memancar dari matanya.

“Ah ternyata memang kau, sudah beberapa hari ini aku tak melihatmu? Kau kemana saja?” Sapa Toru berbasa-basi

Aku menunduk dan berkata pelan

“Aku tidak kemana-mana”

Toru terlihat tidak yakin

“Tapi kau tidak apa-apa kan? Kau tidak sakit?” Tanya Toru seraya menempelkan punggung tangannya ke dahiku. 

Aku melepaskan tangan Toru yang ada dikeningku

“Aku baik-baik saja, aku tidak sakit. Terimakasih”

Tanpa basa-basi aku langsung berjalan meninggalkan Toru di belakangku tanpa persetujuannya, akan tetapi Toru mengejarku kemudian menyejajarkan langkahnya seirama denganku seraya mencecar berbagai pertanyaan dengan matanya yang terus menatapku dari samping. Toru mengikuti kemana aku hendak melangkah, sepertinya ia ingin bercengkrama lebih lama kepadaku. 

Aku menjawab sekenanya pertanyaan-pertanyaan Toru yang tidak penting, hingga akhirnya langkah kami berhenti di depan pintu ruangan dosen yang kutuju.

‘Selain dosen dan siswa yang berkepentingan DILARANG MASUK!!!’

Aku menunjuk pada tulisan yang tergantung pada pintu itu pada Toru, dan sepertinya Toru tanggap dan ia berjalan menjauh dengan melambaikan tangan dari tempatku berdiri, di depan pintu ruangan dosen.

~~~~~~~~~~

Siang hari 02.00

Urusanku dengan dosen sudah selesai hari ini, aku hanya berharap nilaiku kali ini bisa bertambah baik dan memuaskan. Aku memang gadis yang apatis pada orang-orang disekitarku, namun bukan berarti aku apatis dengan nilai-nilaiku kan? Bukan berarti bila sikapku buruk, nilaiku juga akan buruk. Tidak akan terjadi hal itu.

Aku sudah membawa bekal yang kubawa di tas ranselku, aku akan langsung pulang saja dan memakan bekalku di bis nanti. Semoga aku tak berpapasan dengan Ryota, Tomoya, atau dengan berpapasan dengan Toru lagi. Kuakui pagi tadi Toru sangat cerewet dan aku sedang tak ingin mendengar celotehnya.

Sepertinya nasibku hari ini sedang baik, aku sama sekali tak menemukan lagi orang-orang yang sedang kuhindari ini didepanku. Aku selamat. 

Sekian lama sudah aku menunggu beberapa lama di halte ini. Bus sudah lewat setengah jam yang lalu, Jadi aku menunggu bus yang akan datang setengah jam lagi. Yasudah lebih baik kusumpal kupingku dengan headset dan mendengarkan musik. Hingga tak berapa lama ada mobil yang berhenti didepanku, kukira ia akan menjemput seseorang yang berada di halte yang sama dengannku. Aku memandang sekilas dan mengalihkan pandanganku pada kendaraan yang melintas lalu lalang di depanku.

Tak kusangka ternyata pengemudi mobil ini mendatangiku, dia seorang gadis yang lumayan cantik dan berpakaian sangat anggun dengan rambut panjang yang terurai.

“Permisi,...”

Gadis itu berdiri di hadapanku dan menundukkan kepalanya. Aku terkejut dan segera melepas headset yang ada di kedua telingaku.

“Ya? Ada apa?”

“Apakah kau yang bernama Donna?”

Dia tersenyum manis, kukira ia akan bertanya sebuah alamat atau jalan kepadaku. Aku agak tersentak dan mengerutkan kening. Tanpa curiga

“Maaf, apakah kita pernah kenal ?“

Aku mencoba tersenyum. Tapi kaku.

“Tidak, tapi aku adalah dosen magang yang tadi di ruangan dosen. Sensei menitipkanku sebuah surat untuk keberikan padamu”

“Oh terimakasih sensei” Ucapku sembari menundukkan kepala

“Itu tidak seberapa, tak usah berterimakasih”

Gadis itu memberikan sepucuk surat padaku dan mengajak berbasa-basi. 

“Kau menunggu bus datang?”

“Iya, 20 menit lagi mungkin sampai”

“Bagaimana jika kau kuantar pulang?”

“Tidak perlu sensei, itu sangat merepotkanmu”

“Tak apa, hanya mengantarkan tidak akan merepotkan”

“Baiklah”

Akhirnya aku masuk kedalam mobilnya, dan duduk disamping kursi kemudi yang dikemudikan oleh Dosen muda itu.

“Oh aku hampir lupa belum menyebutkan namaku, Namaku Rena, usiaku 27 taun”

“Senang berkenalan denganmu Rena sensei”

Baru kali ini aku bisa bercakap-cakap dengan seseorang yang baru ku kenal, tapi dia adalah dosen muda jadi aku harus bisa beramah tamah dengannya. Demi nilaiku.

Seperempat jam kemudian aku baru menyadari bahwa Rena sensei sama sekali tidak menanyakan alamatku dan melewati rute yang sama sekali bukan menuju alamatku. 

“Sensei, ini bukan ke arah jalan menuju alamatku. Bisakah berputar arah?”

Rena Sensei hanya diam saja dan terus terfokus pada kemudinya.

“Sensei?”

“Maaf,”

“Maaf ? Untuk apa Sensei? “

Tiba-tiba terdengar suara di kursi penumpang di belakangku,

“Donna, ini kami”

Jantungku hampir lepas. Itu suara Ryota

Ryota dan Tomoya ternyata sudah membajak Rena Sensei dan mobilnya, dan aku yakin surat tadi hanya akal-akalan saja. 

“Jluppp”

Suara pintu mobil terkunci otomatis. Aku benar-benar lemas sekarang. Entah apa yang nanti akan dilakukan Ryota dan Tomoya padaku.

“Sensei.. tolong berhenti, aku ingin turun,”

Aku memohon-mohon pada Rena Sensei, namun Rena Sensei hanya berulang kali mengatakan “Maaf” dan tak bisa berbuat apa-apa.

Aku sangat ketakutan kali ini, Ryota berulang kali memanggilku dan menjelaskan sesuatu tapi aku tak mau mendengarnya sama sekali dan menutup kedua telingaku erat-erat dan memejamkan mata kuat-kuat.

“Donna...Donnaa tolong dengarkan kami...”

Aku hanya menggeleng-geleng kepala dan meringkuk. Kudengar samar-samar Tomoya berbicara dengan seseorang di ponselnya. Aku mulai merasakan firasat yang buruk akan terjadi sementara mobil terus berjalan entah kemana.
Sekitar lima menit kemudian mobil berhenti di sebuah jalan sepi dan penuh pertanian. Kubuka telapak tanganku yang menutupi wajahku. Mencoba beradaptasi dengan lingkungan sekitar dan aku menyadari bahwa aku  sama sekali tak mengenali daerah ini. Aku jadi semakin gemetar.

Rena Sensei masih duduk mematung di tempatnya, Ryota dan Tomoya juga masih duduk dengan suasana tegang, begitu pula denganku. Masing-masing dari kami masih terdiam dan suasana yang hening ini semakin terasa mencekam, hingga akhirnya Tomoya mulai bersuara,

“Donna, maafkan kami yang terpaksa harus seperti ini padamu, karena kau telah mengingkari janji yang kita sepakati tempo hari...”

Hening

“Kami terpaksa menggunakan cara sedikit kasar karena kau sangat susah diajak bekerja sama. Maafkan kami yang membuatmu ketakutan”

Aku masih terdiam

“Tapi kami berjanji tidak akan pernah menyakitimu walau seujung kuku sekalipun”

Aku tetap tak memberikan respon. Suasana hatiku sedang sangat kacau.

Tiba-tiba sebuah mobil putih berhenti di depan mobil yang kutumpangi ini, firasatku semakin memburuk. Dari mobil putih keluarlah seorang pemuda yang saat ini menjadi pusat permasalahan yang aku tak tahu ada permasalahan apa ia  denganku,

“Tidak mungkin...” Desisku

Benar, dia Taka. Taka mulai berjalan menuju mobil yang kutumpangi. Dia menuju pintu kemudi dan membukakan pintu mobil. Satu persatu mulai dari Rena Sensei, Ryota dan Tomoya beranjak keluar mobil dan menuju ke mobil putih yang sebelumnya dikemudikan oleh Taka.
Aku masih mencoba untuk membuka pintu mobil yang masih terkunci otomatis. Sia-sia saja.
Sebelum mereka meninggalkan aku dan Taka berdua dalam mobil, Tomoya berkata,

“Selesaikanlah masalah kalian”

Beberapa saat kemudian ketiga orang itu sudah melaju cepat dengan mobil putih tersebut, dan benar-benar aku sudah ditinggalkan berdua saja dengan Taka di mobil yang sama. Aku semakin gemetaran, tak tahu apa yang ingin Taka bicarakan padaku. Aku tak bisa berpikir banyak. 

Cukup lama kami terdiam dalam kebisuan kami, tak ada yang saling mencoba berbasa-basi menanyakan kabar atau melontarkan pertanyaan bodoh. Dan sekitar sepuluh menit kemudian Taka mulai menunjukkan suaranya dengan penuh penekanan dan putus asa.

“Jadi... sejak kapan namamu berubah menjadi Donna, MA-NA-MI...???”

Aku terkulai semakin lemas.

Bersambung.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Huwooo akhirnya selesai juga chapter ketiga ini dalam waktu dua jam, dan sambil chatting bareng Cheza ngegosipin soal Taka dan temen-temennya. Ngegosipnya juga hal-hal yang gila dan yang pasti bikin haha hihi buat penghilang stres pastinya.
Kira-kira apa yang terjadi sebenarnya dengan Taka dan Donna errrr Manami atau Donna ya...
Tunggu saja ya crita selanjutnya.
Selamat Malam
.
.
Byeee...
.
.
Kapan-kapan Main Lagi Yaa....
.
.

 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Feel free to comment... silahkan....